Satya, Pria Tukang Selingkuh yang Mengalami Jamahan Tuhan

Posted: 24 May 2010 in Spiritual Life
Tags: ,
detail_img

Satya tidak pernah menyangka sebuah ajakan dari rekan bisnisnya telah menjadi perangkap bagi dirinya.

“Customer saya ini mengajak, ya udah kita pilih yang import sajalah dan akhirnya kami pun sama-sama memilih yang import lah.”

Rasa penasaran untuk mencoba sesuatu yang baru membuatnya tidak berpikir panjang.

Dari sekedar mencoba, kini Satya tidak ragu mengeluarkan jutaan rupiah demi PSK Import. Jerat perzinahan telah membutakan nuraninya. “Saya sendiri secara subyektif, kalau udah sering sama istri kan ada suatu timbul kebosanan ya? Pingin coba-coba yang lain. Dari coba-coba itulah akhirnya ada satu keterikatan dalam diri saya.”

Satu minggu kemudian setelah melakukan hubungan dengan para perempuan penjaja diri, Satya pun ke luar negeri. Ia pun melakukan kembali hubungan badan dengan wanita yang ada di hotel dimana ia menginap saat itu.

Hati kecil sang istri merasakan perubahan Satya. Sakit hati atas perbuatan suaminya, ia pun membalas perbuatan Satya.

“Istri saya juga sudah mulai tidak sepenuhnya mencintai saya karena saya pernah menemukan juga istri saya itu di handphone-nya ada dengan pria lain juga gitu sampai akhirnya saya menemukan dia dengan pria yang lain di suatu mobil”

Keegoisan telah meluluhratakan pernikahan mereka. Percekcokkan semakin membesar ketika istri meminta kepadanya untuk bercerai. Namun, itu tidak terjadi.

Menyadari kesalahannya, Satya mengupayakan rujuk dengan istri. namun niatnya tidak didukung dengan perbuatan nyata. “Ketika saya sudah bersatu kembali sang istri, setelah itu saya kembali lagi ke kesenangan yang lama.”

Satya tidak pernah menyangka bisnis dan usahanya pun sedikit demi sedikit telah digerogoti oleh nafsu bejatnya. Satya seperti telah kehilangan arah, ia tidak tahu harus berbuat apa. “Akhirnya itu lama kelamaan pekerjaan saya bisnis saya semakin sepi dan semakin sepi. Singkat cerita, saya gak lagi berbisnis lagi dengan orang India itu. Saya kembali sendiri lagi. Dalam kondisi itu, berangsur-angsur penghasilan saya merosot, merrosot, dan merosot terus. Pendapatan yang tidak seimbang dengan pengeluaran membuat saya pun akhirnya menjual rumah, mobil saya, segala harta benda yang saya miliki saya jual semua”

Terlintas dalam pikiran Satya ketika dalam kondisi sedang stres untuk kembali ke tempat spa. Awalnya ia ragu untuk melakukannya, tetapi dorongan nafsu yang lebih kuat membuatnya akhirnya menginjakkan kakinya ke tempat tersebut.

Habis sudah kesabaran sang istri, perceraian pun tak terelakkan. “Istri sudah mulai tidak tahan karena saya mulai menjual barang ini barang itu. Justru saya emosi lagi karena istri kembali mengatakan ingin bercerai. Dan saya pun mengikuti kemauan sang istri. Setelah saya mengatakan iya, malamnya istri langsung pergi meninggalkan saya.”

Dalam keadaan bangkrut, Satya akhirnya memutuskan untuk pulang ke Magelang, kampung halamannya, yang justru merupakan puncak dari kebodohannya. Setibanya disana, bukannya hidupnya semakin baik, perbuatan buruknya semakin menjadi-jadi. Ia kini tidak hanya terperangkap dosa perzinahan, tetapi juga terikat dengan judi. Kelakuannya itu pun telah menguras seluruh tabungannya.

Putus asa karena tidak memiliki harta apa-apa lagi membuatnya mengambil keputusan untuk bunuh diri. Namun, saat ia mau melakukannya, pikirannya mencegah hal tersebut. Di saat inilah, ia berbalik kepada Tuhan. Satya menyadari bahwa apa yang dilakukannya kemarin-kemarin adalah sebuah kesalahan dan dosa. Dan ia mau bertobat terhadap semua itu.

Dalam satu sesi ibadah yang ia hadiri, ketika firman telah selesai dibagikan dan sang pendeta memimpin berdoa, Satya mulai mengalami jamahan Tuhan. Air matanya tidak dapat tertahan lagi ketika tangannya terangkat kepada Tuhan. Bukan hanya itu, ia memiliki kasih yang mula-mula. Dalam peristiwa itu, Tuhan mengingatkannya bahwa walaupun dunia ini memberikan segala kenikmatan, namun semuanya hanyalah sementara. Kenikmatan dari-Nya lah yang kekal adanya.

Kini, hidupnya telah berubah 180 derajat. Satya kini pun dipercayakan Tuhan memimpin sebuah jemaat, sesuatu yang dulu tidak pernah dipikirkannya. Bahkan, ia bertekad tidak akan kembali ke dalam dunia sekuler seperti dahulu kala. Dan ia pun bersyukur atas semua yang kini ia jalani.

“Sesungguhnya semua itu dari Tuhan, buat Tuhan, dan semuanya itu buat Tuhan. Bagi Dia-lah kemuliaan selama-lamanya,” ujar Satya menutup kesaksiannya kali ini.

(Kisah ini ditayangkan 17 Mei 2010 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian: Satya

Comments are closed.