Pemain Kelas Tinggi

Posted: 7 June 2010 in Renungan/Devotion
Tags: ,

Amsal 24:17
“Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.”

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 8; Yohanes 18; 1 Raja-Raja 3-4

Pada hari Sabtu sore, 14 Desember 1996, Zig Ziglar menghadiri salah satu perlombaan atletik yang paling mengasyikkan sepanjang hidupnya. Itu adalah pertandingan kejuaraan State 5A antara Lewisville Fighting Farmers dan Converse-Judson Rockets. Walaupun ia mendukung Converse-Judson Rockets yang kemudian kalah dengan selisih angka dua puluh empat, ia melihat anak-anak muda itu tidak mengenal kata ‘menyerah’.

Mereka benar-benar mencurahkan seluruh tenaga dan kemampuan mereka dari awal sampai akhir. Pemenang dalam pertandingan tersebut bersikap ramah dalam pertandingan; dan tim yang kalah telak, meskipun sangat kecewa, sama ramahnya sewaktu mereka memberi selamat kepada pemenang. Mereka meninggalkan lapangan dengan kepala tegak, yakin di tahun depan mereka akan memberi hasil yang berbeda. Bagi Zig Ziglar, inilah yang layak disebut pemain kelas tinggi.

Kegagalan merupakan momok yang menakutkan bagi sebagian besar orang di muka bumi. Sebisa mungkin mereka terhindar dari keadaan tersebut, namun hal itu tidaklah mungkin. Tidak ada orang yang tidak pernah mengalami kegagalan. Semua pasti pernah berada dalam situasi seperti itu, hanya yang membedakan hasil akhirnya adalah cara mereka menyikapi kegagalan tersebut.

Orang-orang yang berhasil keluar dari kegagalan adalah seperti pemain kelas tinggi yang digambarkan oleh Zig Ziglar diatas. Mereka ini adalah orang orang-orang tidak pernah menyerah dalam hidupnya. Mereka tidak membiarkan diri mereka terus terpuruk dalam perasaan sedih karena mengalami kegagalan. Justru, mereka mengambil pelajaran dari kegagalan tersebut dan mengembangkan diri lebih baik lagi.

Sedangkan, orang-orang yang tidak dapat keluar dari kegagalan layaknya pemain kelas rendah. Mental mereka lemah. Orang-orang seperti ini tidak mau untuk berjuang keras mengatasi kegagalan mereka. Mereka hanya bisa pasrah dengan keadaan yang mereka terima saat ini.

Tuhan memberikan otoritas kepada Anda untuk mengubah kehidupan Anda sendiri. Kaitannya dengan hal kegagalan, Anda diberikan-Nya kemampuan untuk mengubah kegagalan dalam hidup Anda – menjadi sesuatu yang positif atau negatif. Jika ingin menjadi positif maka kuncinya adalah Anda tidak boleh menyerah. Sebaliknya, jika Anda ingin kegagalan Anda menjadi negatif, bersikaplah pasrah. Manakah yang Anda pilih? Sungguh keputusan seluruhnya ada di tangan Anda.

Sebuah kegagalan bukanlah akhir dari kehidupan kita, justru itu adalah kesempatan bagi kita untuk meningkatkan kapasitas diri.

Sumber: Jawaban.com

Comments are closed.