Archive for the ‘Miracle Story’ Category

detail_img

Hari itu, tanggal 26 Desember 2004, Paulus Kilikili tetap beraktifitas seperti biasanya di tempat tinggalnya Banda Aceh. Hari itu hari Minggu, Paulus sudah bangun sebelum jam 8 dan sudah membuka warung dagangannya. Sang istri pun sedang menyiapkan makanan. Mereka sama sekali tidak mempunyai firasat akan apapun yang buruk akan terjadi menimpa mereka.

Sekitar jam 8, tiba-tiba terjadi goncangan keras. Mereka mengalami gempa, begitu juga dengan penduduk sekitar, kemudian gempa itupun berlalu saat mereka semua sudah keluar rumah tanpa mengalami cedera apapun. Sekitar 15 menit kemudian, ketika Paulus masih duduk-duduk santai sambil minum kopi di depan warungnya yang juga merupakan bagian rumahnya, tiba-tiba bahaya menghampiri mereka.

Semua penduduk di sana melarikan diri dan berteriak-teriak. Pasalnya adalah air laut naik ke permukaan daratan dan menghantam setiap benda maupun orang yang dihampirinya. Saat Paulus melihat air yang setinggi 15 meter itu menghampirinya, dia hanya bisa pasrah.

Tiba-tiba Paulus dihantam dan tidak sadarkan diri. Yang dia tahu kemudian adalah dia tersangkut di batang kelapa dan berada sekitar dua kilometer jauhnya dari rumahnya karena terbawa tsunami itu. “Saya nggak lari kok saya yang selamat?” begitulah yang dikatakan Paulus sewaktu bersaksi. Sampai air itu surut, Paulus tetap mempertaruhkan nyawanya dengan berpegangan pada sebatang pohon kelapa tersebut.

Setelah air surut, Paulus turun dari batang kelapa itu (Bisa dibayangkan setinggi apa tsunami itu sampai-sampai Paulus bisa tersangkut di pohon kelapa yang begitu tinggi?) Paulus yang sudah terluka parah bermaksud untuk kembali ke rumahnya dan melihat pemandangan yang tidak akan pernah dilupakannya seumur hidupnya. Kakinya begitu kesakitan dan tidak bisa lagi dipakai untuk berjalan.

Saat itu Paulus melihat begitu banyak mayat yang tergeletak di sekitarnya. “Saya sudah sedih dan menangis melihat kejadian itu. Saya juga minta ‘Tuhan, mana keluarga saya? Mana keluarga saya? Selamatkanlah keluarga saya, Tuhan…”

Dalam kondisi tubuh yang penuh luka dan kekuatiran yang mendalam mengenai keselamatan keluarganya, Paulus baru mendapatkan pertolongan menjelang sore dari beberapa orang relawan. “Saya sampai jam 4 sore, baru dibawa ke puskesmas. Sesampainya di sana pun sudah tidak ada makanan maupun minuman. Selama dua hari tidak ada makan dan minum. Baru hari ke-3 Paulus bisa makan minum setelah dibawa ke tempat lain.

Setelah sembuh, Paulus mulai mencari keluarganya. “Waktu saya masih sakit, saya kepikiran mungkin ada keluarga saya yang selamat.” Maka Paulus pun mulai mencari ke tempat-tempat informasi yang tersedia. Dia masukkan keterangan di Koran, masuk ke banyak rumah sakit dan mencari mereka tapi setelah satu tahun, dia tetap tidak menemukan mereka. Bahkan kuburan mereka pun tidak bisa dia temukan.

“Saya sudah pasrah aja sama Tuhan. Sedih banget. Selama 6 bulan saya menangis terus. Saya tidak bisa ketemu anak, istri, cucu saya, menantu saya. Air mata keluar setiap hari, siang malam tidak bisa tidur memikirkan mereka.”

Rasa sedih tak tertahankan, membuat Paulus meninggalkan Aceh dan datang ke Jakarta. Namun, di Jakarta pun dia tidak memiliki tujuan yang pasti. “Lari ke Jakarta, saya tidak punya sanak saudara sekalipun. Tapi daripada stress, saya datang saja.”

Di Jakarta, saat menjelang sore, Paulus pun mencari taksi dan pergi ke hotel yang paling murah. Paulus tidak mengerti tujuan hidupnya di Jakarta. Dia hanya ingin melarikan diri dari kenyataan ditinggal istri dan keluarganya. Hal itu membuat Paulus seperti orang yang kehilangan arah saat di Jakarta.

“Saya bangun pukul 10.00 pagi. Setiap hari saya pergi kemana saja saya bisa, saya tanya orang-orang. Yang saya lakukan kemudian cuma duduk-duduk saja di pinggiran jalan, dimana saja sambil merenung kembali tentang kehilangan yang saya alami. Selama sebulan itu, hanya itulah yang saya lakukan. Sepuluh malam pulang, sepuluh pagi, itulah yang saya lakukan terus menerus.”

Selama sebulan itu, uang Paulus pun habis. Dia kemudian hidup terlunta-lunta. Dia tidur di sembarang tempat dimana saja dia bisa tidur. “Saya tidak ada duit itu. Saya tidur di sana sini, sana sini, saya tidur di dekat polisi cepek. Tapi orang-orang kasihan kepada saya…”

Sebabnya adalah ketika mereka menanyakan dia darimana, Paulus menjawab bahwa dia berasal dari Banda Aceh. Kemudian diapun menceritakan kejadian tragis yang menimpanya. Malahan, para polisi cepek itu memberinya makan. “Besok, kalau Bapak belum makan, datang lagi saja ke sini…” Itulah yang diperbuat oleh polisi cepek ini kepada Paulus.

Berbulan-bulan Paulus hidup jadi gelandangan di Jakarta. Tanpa harapan, tanpa apa-apa dan harus mengharapkan belas kasihan orang lain. Makanya, setiap kali bertemu orang, dia mengharapkan pekerjaan yang bisa menyokong dia untuk bisa makan. Saat Paulus sedang dalam kondisi tubuh lemah dan sakit-sakitan, saat itulah Paulus bertemu dengan seseorang yang tanpa disadarinya, akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.

“Suatu saat, saat saya sakit, seorang hamba Tuhan datang dari gereja kepada saya…”

“Bapak lagi ngapain?” tanya hamba Tuhan tersebut.

Paulus kaget melihat orang tersebut kemudian menjawab, “Saya numpang tidur, Pak. Saya lagi sakit.”

Hamba Tuhan tersebut memberikan kepadanya makanan dan menemaninya selama dia makan. Saat Paulus sudah selesai makan, dia mengatakan, “Pak, tolong cari saya kerjaan. Apa saja yang penting saya bisa makan.”

Hamba Tuhan tersebut meminta Paulus untuk datang kembali minggu depan. Saat yang ditetapkan tiba. Paulus datang dan akhirnya diajak ke salah satu rumah teman hamba Tuhan tersebut. Tanpa dia sadari, di sana Paulus merasakan kasih yang luar biasa dan penerimaan yang sesungguhnya.

“Kondisi Paulus saat itu sangat parah ya… Saya tidak tahu siapa itu Pak Is (Paulus, red) tapi saya mengasihi dia. Saya dan Pak Is tinggal satu kost.” Begitu kisah Lexi Kurmasela, orang yang dimintai bantuan oleh hamba Tuhan tersebut.

“Sekarang kondisinya jauh berbeda. Kalau dulu tujuan hidupnya tidak ada, sukacita tidak ada. Dia menjalani hidup biasa aja. Tapi setelah dia lebih lagi mengenal kasih Tuhan, perbedaannya jauh. Dulu dia membutuhkan sukacita, dulu dia meminta pertolongan kepada orang lain. Sekarang dia memberikan pertolongan dan sukacita kepada mereka yang membutuhkan.” Lexi bercerita.

“Sekarang makan saya teratur, pikiran tidak beban. Saya berpikir, kok bisa saya jadi begini? Saya diubah Tuhan sedemikian rupa dan dipulihkan. Saya berterima kasih kepada Tuhan Yesus, apapun beban yang saya rasakan, sudah Tuhan Yesus angkat. Tuhan memberikan kekuatan bagi saya. Saya percaya Tuhan Yesus adalah Juru Selamat bagi saya sampai selama-lamanya.” (Kisah ini ditayangkan pada acara Solusi Life di O Chanel tanggal 21 Juli 2010)

Sumber Kesaksian :

Paulus Kilikili

detail_img
Dua insan yang dulunya saling mencinta, menjadi begitu saling membenci dan penuh dengan dendam.

“Sewaktu menikah, melihat suami saya berubah itu membuat saya berpikir – Kok bisa berubah begitu banyak dengan sifatnya sewaktu pacaran itu baik, tetapi begitu rumah tangga kok… berubah. Dalam hal kecilpun dia bisa marah. Pokoknya sifatnya ya dibilangin malah kasar dan mau menang sendiri, egois. Kadang dia suka bilang ke saya sebagai istrinya bahwa saya itu tak punya otak, tak sekolah. Sebagai istri, saya sakit hati dibilang begitu,” ujar Allien, istri dari Herman.

Herman sendiri bertutur, “Istri saya suka ngomong kasar. Apapun ia berkata kasar, kadang-kadang perbuatannya pun kasar. Pernah saya lagi makan siang, saya tanya – ini sendoknya mana? – Dia lempar dari dapur sendoknya. Sakit hati saya disitu. Trauma. Saya paling gak suka perempuan itu galak. Yang saya tahu istri saya sewaktu pacaran itu tidak keras. Orangnya lemah lembut. Tetapi setelah menikah, dia kok semakin kasar terus.”

Semakin hari permasalahan semakin menumpuk. Saling mempersalahkan dan menuduh sudah menjadi bagian hidup mereka sehari-hari.

Herman berkisah, “Berkomunikasi dengannya sudah susah sekali. Saya sudah berusaha ingin ngomong, tapi tak pernah ada yang namanya kesepakatan sama sekali. Karena jika saya sudah ngomong sepatah, dia sudah ngomong sepuluh kata. Jika saya sudah denger dia ngomong sepuluh kata, saya diam. Jadi masalah itu saya bawa pergi. Saya sering keluar itu karena menghindari percek-cokan.”

Terkadang Herman sering mendapat telepon dari teman-temannya untuk pergi makan di malam hari. Meskipun bingung, tetapi sebagai istri Allien menerima saja suaminya pergi menerima ajakan keluar rumah dari teman-temannya.

“Saya setiap malam selalu ijin pergi sama istri. Malam ini saya bilang A ulang tahun, besok lain lagi si B yang ulang tahun. Padahal tidak pernah, kita perginya ke diskotik. Saya ngebohongin istri saya,” ujar Herman.

Setiap suaminya pulang, terkadang dalam keadaan muntah. Kadang pintu ingin didobrak oleh suaminya. Terkadang ia merasa ia seperti pembantunya.

“Pada waktu itu saya tidak pernah memikirkan istri saya. Tidak ada sama sekali. Saya malah senang jika melihat istri saya menderita,” ujar Herman.

Rasa benci menjadikan Herman semakin menggebu-gebu untuk membuat istrinya menderita. Bahkan pada saat mereka sedang berhubungan intim.

“Dalam berhubungan intim pun, saya rasanya ingin menyakiti dia terus. Jadi tidak punya rasa mesra. Inginnya, menyiksa. Inginnya merasa puas sendiri. Saya tidak pernah mikirin apakah istri saya itu merasa sakit, atau merasa terpuaskan. Tidak ada sama sekali,” ujar Herman.

Merasa tidak berdaya menghadapi sikap suaminya, Allien pun mencari pelampiasan untuk membalas perbuatan suaminya. Ia melampiaskan pada anaknya. Anaknya sendiri pun ia pukuli. Suaminya tidak mengetahui perbuatan istrinya pada anak mereka.

“Jika bapaknya tahu, saya bisa digebukin oleh bapaknya,” ujar Allien.

Allien menambahkan sambil terisak, “Dahulu saya tidak memiliki rasa kasihan sama anak, karena saya sering dipukulin oleh suami saya. Jadi anak pertama saya habis saya pukulin.”

Allien sudah merasa tidak kuat. Kerap ia ingin merasakan untuk bunuh diri. Kalau malam melihat anaknya tidur, ia suka merasa kasihan. Tetapi jika keesokannya lagi suaminya melakukan hal yang sama, anaknya pun tetap menjadi sasarannya. Ia kerap melampiaskan rasa frustasinya pada anaknya.

Keinginan Herman untuk menaklukkan istrinya pun semakin tak terbendung lagi. Bahkan ia nekat menggunakan kuasa kegelapan.

“Saya sering merasa dibantah oleh istri saya. Saya ingin buktikan bahwa ia akan nurut jika saya pasang susuk. Saya pasang susuk karena saya ingin buktikan pada istri saya bahwa saya adalah orang perkasa, bahwa saya adalah kepala rumah tangga yang kuat,” ujar Herman.

Tetapi setelah pasang susuk, Herman justru semakin tambah emosi. Apalagi jika ia melihat segala omongannya selalu dibantah oleh istrinya. Tetapi susuk itu tak pernah terbukti sama sekali. Tetap saja istrinya melawan dirinya.

“Saya tidak pernah menyadari bahwa saya itu jahat. Yang saya tahu bahwa perbuatan saya itu menyenangkan hati saya. Saya merasa hati saya puas dengan kelakuan-kelakuan yang saya buat untuk dia,” ujar Herman mengungkapkan bagaimana dahulu hatinya sudah begitu bebal.

Dahulu saking kesalnya, Allien sempat berpikir untuk meracuni suaminya. Kadang jika sedang tidur, apabila sudah dirasuki setan, kadang-kadang ia ingin menusuk saja suaminya.

Bukan surga dalam rumah-tangga yang mereka rasakan, namun neraka di dunia yang harus mereka hadapi setiap hari. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang senantiasa berdoa dan berlutut kepada Tuhan bagi mereka.

Allien mengungkapkan, “Saya diberitahu oleh anak teman saya bahwa saya itu didoakan oleh teman anak saya melalui anak saya hingga berpuasa. Puasa doa, puasa doa… Bergumul untuk mama-nya. Oleh anak saya yang kedua, saya sering diajak komsel olehnya. Saya sering marah kepadanya menanggapi ajakan anaknya.”

Tetapi suami Allien berkata kepada Allien ketika melihat ia menolak ajakan anak mereka, “Kamu itu tidak punya agama. Kalau kamu mati, saya buang ke laut mayat kamu. Saya tidak mau urus mayat kamu.”

Perkataan itu selalu terngiang-ngiang di benak Allien. Dia pun menuruti saran anaknya untuk menghadiri kelompok doa tersebut. Ternyata dia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“Jika di komsel kan suka sering didoain, suka ditanya apa pergumulan masing-masing dari kita. Saya bilang jikalau – ‘Saya tadinya belum mengenal Tuhan karena saya tadinya tidak percaya Tuhan. Hati saya kacau, hidup saya tidak tenang.’ – Jadi saya pun didoakan. Rasanya enak sekali. Pikiran pun plong,” Allien mengisahkan bagaimana ia merasa ketenangan ketika berkumpul bersama dalam komsel (komunitas sel, red).

Perubahan dari bagaimana ia tergabung dalam komunitas sel itu, ia merasa bahwa ia sudah lagi tidak marah-marah. Ia pun sudah tidak lagi memukul anak-anaknya. Dengan suami pun jika berbicara, ia sudah menjadi lebih lembut.

Tengah malam ia pun menjadi sering terbangun berdoa untuk suaminya. Kadang-kadang jika suami lagi tidur, ia sering tumpang tangan.

“Saya berdoa untuk suami saya agar karakternya berubah,” ujar Allien.

Ternyata Herman sering tersadar bahwa di tengah malam istrinya sering mendoakan dirinya. “Ketika saya tertidur, saya sering tersadar jika istri saya bangun. Tetapi saya tidak tahu bahwa ia itu mendoakan saya,” kisah Herman.

Suatu hari, kerap ketika pulang kerja Herman merasakan bahwa pekerjaan begitu sulit. Di rumah istrinya berkata, “Ya sudah, ke gereja saja. Pasti setelah gereja, pekerjaan kamu akan kelar.”

Setelah mentok sana-sini, Herman teringat bahwa dahulu ia sering mendengar cerita bahwa Yesus itu melakukan banyak mukjizat, bisa menyembuhkan orang, dan lain-lain. Setelah berpikir, Herman mau juga untuk pergi ke gereja.

Herman lalu menghadiri kebaktian keluarga khusus untuk pasangan suami-istri untuk pertama kalinya. Ia merasakan sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya olehnya.

“Saya merasakan hati yang hancur. Saya merasakan ada jamahan. Ada perasaan bersalah. Saya ingat segala yang saya perbuat sama istri dan keluarga saya. Saya teringat semuanya. Kenapa setiap mendengar lagu-lagu rohani, air mata saya selalu keluar? Disitu saya mulai merasa damai sekali di hati,” kisah Herman mengenai pertobatan pertamanya.

Hari demi hari, keluarga mereka mulai mengalami perubahan yang menakjubkan.

“Dulu jika biasanya ngobrol-ngobrol di tempat tidur, jadinya berantem. Tetapi setelah ngobrolin Yesus, itu rasanya damai. Memecahkan masalah kami. Jika ada sifat pasangan yang tidak disukai, kami bicarakan. Lalu masing-masing kami berjanji tidak akan begitu lagi. Jadi sekarang ada komunikasi di antara kami. Bicara pun lemah lembut. Tidak lagi bentak-bentak seperti dulu,” kisah Herman mengenai perubahan dalam keluarganya.

Bahkan anak-anaknya pun sekarang sudah berani untuk curhat kepada Herman. Istrinya pun sudah tidak lagi membantahi dirinya.

“Saya benar-benar percaya bahwa Tuhan saya, Tuhan Yesus itu adalah Tuhan yang benar-benar membawa kedamaian. Membawa sukacita buat keluarga saya. Membawa berkat dalam keluarga saya,” ujar Herman.

Allien sendiri berkisah, “Saya benar-benar tak pernah terpikir bahwa suami saya bisa berubah begitu cepat. Tuhan benar-benar baik mengubah suami saya. Karakternya sudah berubah sama sekali. Tadinya yang mau menang sendiri, tetapi sekarang jika istri bicara, dia mau mendengarkan. Saya benar-benar mengucap syukur!”

Herman sendiri mengucap syukur sambil menangis, “Begitu besar kasihnya. Sehingga saya yang berdosa saja mau diampuni. Mau dipilih untuk diselamatkan. Yang saya rasakan begitu luar biasa adalah keselamatan yang diberikan oleh Yesus kepada saya. Ketika saya sedang berjalan di tempat yang gelap dahulu, saya tidak pernah tahu bahwa saya ada jalan yang di tempat terang. Tetapi ketika saya di tempat terang, barulah saya tahu bahwa jalan yang saya lalui dahulu adalah di tempat yang gelap. Sekarang saya merasa lebih berharga. Saya merasa berharga sekali.” (Kisah ini ditayangkan 15 Juli 2010 dalam acara Solusi Life di O’Channel)

Sumber Kesaksian:
Herman

Uang adalah hamba yang baik, tetapi merupakan tuan yang buruk. Itulah yang dialami oleh pria yang bernama Harryanto ini, kehidupannya hancur karena jerat tipu daya uang yang menariknya kepada banyak kejahatan.

Awalnya, Harryanto pikir uang bisa memberi kebahagiaan pada keluarganya, tak pernah disangkanya bahwa semua itu hanya harapan semu belaka. Dia menjadi budak uang sehingga menghalalkan segala cara supaya bisa menghasilkan uang.

“Waktu saya mulai bisnis garmen, untuk memuluskan bisnis kalau ada customer dari luar kota, dia kami entertain, mengajak dia ke diskotik, mengajak dia ke night club, supaya dia pesan barang ke kami. Tapi semakin lama saya semakin merasakan kenikmatan dengan mabok-mabokan dan ke night club. Hingga pada tahun 1994 saya mulai kenalan dengan ekstasi. Semua itu membuat saya tidak mengurusi pekerjaan saya, hingga akhirnya saya bankrupt. Saya sempat frustrasi karena saya tidak tahu harus melakukan apa, padahal saat itu saya harus membiayai keluarga saya dimana anak pertama saya baru saja lahir.”

Tanpa berpikir panjang dan terdesak oleh kebutuhan keluarganya, Harryanto yang telah terjerumus dalam kehidupan malam dan narkoba akhirnya memutuskan menjadi bandar narkoba. Harryanto menutup rapat-rapat kedoknya sebagai seorang bandar narkoba dari keluarganya, hingga suatu hari sang istri mengetahui pekerjaannya sesungguhnya.

“Saya sering tidak pulang ke rumah, dan waktu itu istri saya belum tahu kalau saya seorang bandar ekstasi.”

Setiap kali sang istri menanyakan mengapa dirinya tidak pulang, Harryanto selalu beralasan sibuk dalam pekerjaan. Supaya tidak terus menerus diberondong pertanyaan dia sering beralasan sedang stress lalu menghindar dari istrinya.

“Saya bilang saya lagi stress, setiap kali pulang lagi stress. Tapi setiap kali pulang saya juga selalu bawa uang dan saya kasih dia.”

Hal ini terus menerus terjadi menjadi sebuah siklus rutin yang menimbulkan pertanyaan besar di benak istrinya. Karena tidak bisa menahan rasa penasarannya, istri Harryanto mulai bertanya kepada teman-teman Harryanto. Tak pernah dinyananya sebuah lembar kelam kehidupan sang suami harus di hadapinya.

“Sekarang suamimu kan bandar narkoba..” demikian kata salah seorang teman Harryanto.

Seakan tak percaya dengan informasi dari teman suaminya itu, istri Harryanto menanyakan langsung kepada Harryanto tentang pekerjaannya sekarang.

“Saya membenarkan hal itu. Waktu dia tahu saya seorang bandar, dia menangis. Saat itu saya katakan ‘emang saya bisa kerja apa sekarang? Toh dari hasil pekerjaan ini saya bisa memberi kamu makan. Anak saya bisa saya kasih makan.’ Akhirnya istri saya berkata dengan berat hati, ‘Kalau gitu terserah kamu aja deh..'”

Hari demi hari, Harryanto semakin larut dalam pekerjaannya sebagai bandar narkoba. Uang yang berlimpah bagaikan lumpur hidup yang semakin menghisapnya dalam kelam kehidupan malam dan semakin menjauhkannya dari keluarga.

“Dalam tujuh hari selama seminggu, paling hanya satu hari di rumah, enam hari lainnya saya diluar. Jadi saya tidak pernah di rumah. Anak saya pernah bertanya, ‘Kok papa kerja pergi malam terus pulangnya pagi? Kerja apa sih pa?’ Saya tidak bisa jawab waktu itu. Saya merasa bukan seorang ayah yang baik waktu itu. Pada hal anak-anak saya membutuhkan kasih seorang ayah, kasih sayang seorang bapak. Saya ngga bisa berikan, saya hanya bisa memberikan uang. Karena waktu itu hanya memikirkan uang dan uang saja.”

Namun hatinya seperti sudah membatu, kesadaran yang dirasakannya itu dalam sekejab sudah menghilang bersama angin. Harryanto justru melakukan kejahatan-kejahatan yang semakin menyakiti hati istrinya.

“Waktu saya di dunia narkoba selama tujuh tahun itu, saya rasa saya bukanlah suami yang baik. Saya bisa membawa wanita lain di depan istri saya. Kadang waktu ke diskotik, saya ajak istri saya, tetapi disana saya sudah ada wanita lain yang menunggu. Kalau sudah jam 2, saya antar istri saya pulang lalu saya pergi lagi disambung dengan wanita lain.”

Istri Harryanto, Tjong Lian Ting sangat terluka karena suaminya dengan sengaja berselingkuh di depan mata kepalanya.

“Karena saya sudah melihat dengan mata kepala saya sendiri, hati saya jadi tawar kepada dia,” demikian kisah Tjong Lian

Ternyata dibalik semua yang dilakukannya itu, Harryanto memang sengaja ingin menyakiti hati istrinya.

“Saya sengaja menyakiti hatinya sepertinya saya sengaja lakukan karena saya mau menunjukkan rasa ketidakpuasan saya kepadanya.”

Dendam yang tersimpan dalam hati Harryanto kepada istrinya itu bermula ketika masa pacaran mereka.

“Istri saya waktu itu akan pergi ke Bali. Saya minta dia untuk tinggal dan menemani saya tapi tidak di gubrisnya,” cerita Harryanto

“Kamu jangan ke Bali, kamu disini aja temenin saya. Saya lagi susah begini kok kamu malah tinggalin saya,” kata Harryanto pada Tjong Lian yang kala itu masih menjadi pacarnya.

“Tapi ternyata dia tetap pergi ke Bali dan senang-senang sedangkan saya sedang kelaparan disini. Makanya saya berjanji pada diri saya, ‘Saya akan balas sakit hati saya ini nanti.'”

Dendam masa lalunya itu membuat Harryanto semakin tidak peduli dengan istrinya. Bahkan di depan kedua anaknya dia tega membawa wanita lain dan mengusir istrinya.

“Waktu itu saya bertahan, saya tidak mau keluar,” demikian tutur Tjong Lian. “Saya cuma berpikir saya lebih berhak, Harryanto masih suami saya dan dia itu cuma perempuan lain. Hati saya seperti nantangin perempuan lain itu, ‘ayo siapa yang bisa bertahan.’ Tapi ternyata suami saya malah mengusir saya.”

Kemerdekaan semu yang di rasakan Harryanto karena telah berhasil mengusir istrinya ternyata tidak berlangsung lama. Shabu-shabu yang dikonsumsinya selama beberapa tahun itu ternyata berdampak buruk pada otaknya dan membuatnya berhalusinasi.

“Saya melihat bayangan-bayangan hitam lewat-lewat di sekitar saya. Saya waktu itu tidak merasa takut. Saya ambil stick softball dan saya pukul kesana kemari. Saya merasa ada penyusup dirumah saya, pada hal tidak ada apa-apa. Rumah saya jadi  hancur berantakan semua.”

Ditengah-tengah kekecewaan hidupnya, dan juga masalah kesehatan jiwanya, Harryanto mengalami peristiwa aneh. Pada waktu dia hendak pergi ke diskotik, di dalam mobil dia menyalakan tape dan memasang kaset yang ada disitu. Entah siapa yang menaruh kaset itu, ternyata itu adalah kaset lagu rohani dan hatinya disentuh oleh Tuhan ketika lagu berjudul “Sejauh timur dari barat” dilantunkan.

“Waktu saya dengar lagu itu, di dalam mobil saya menangis. Saya berkata, ‘Kau telah mengampuni dosa-dosa saya. Kau pulihkan semua kehidupan saya. Tidak ada satu dosapun yang kau ingat-ingat lagi.’ Saya menganggap tidak ada orang yang seperti ini, yang bisa mengampuni tanpa syarat. Saya pulang, saya nangis dan saya berdoa, ‘Tuhan saya mau Engkau pulihkan saya Tuhan. Saya akui dosa-dosa saya. Semua pelanggaran saya, semua yang pernah saya perbuat saya akui Tuhan. Saya percaya Tuhan, Engkau akan memulihkan hidup saya.”

Setelah peristiwa itu, Harryanto membuat sebuah langkah untuk memulihkan keluarganya. Dia datangi istrinya dan membujuknya untuk pulang kembali kerumah mereka. Namun kembalinya sang istri tidak merubah keadaan menjadi lebih baik malah membuat dirinya semakin tertekan karena hubungan mereka belum pulih. Hal itu membuatnya sangat putusasa dan ingin bunuh diri.

“Saya tahu istri saya pulang bukan karena saya, dia pulang untuk anak-anak saya. Saat itu kami tetap pisah kamar, dia tidur dengan anak-anak, sedangkan saya tidur sendiri. Saya pikir, ‘percuma saja kamu pulang kalau begini.’ Akhirnya saya putuskan untuk bunuh diri, saya berkata, ‘Saya mau mati saja Tuhan!’ Saya naik mobil dan ngebut. Saya masuk jalan tol, dan berada di tengah jalan dalam kecepatan tinggi. Biasanya bila di jalan menuju puncak bis dan truk tidak mau mengalah kepada mobil kecil. Tetapi hari itu, truk dan bis itu yang mengalah. Saya selamat sampai di Cipanas dengan terheran-heran…Saya pikir ‘kok ngga kenapa-kenapa ya.. wah mungkin kurang nih…’ Saya mampir ke warung, saya beli minuman dan minum sampai mabok. Saya naik ke mobil dan turun dari puncak sambil ngebut.. Sampi di jalan tol, tetap ngga kenapa-kenapa. Disitu baru saya nangis, saya sebut nama Tuhan. Saya panggil nama Tuhan. Dengan suara sekeras-kerasnya saya panggil Tuhan. Setelah itu saya pulang, saya datang pada istri saya. Dia ingin saya ikut rehap, dan saya katakan saya mau.”

Kemudian Harryanto menjalani pemulihan di sebuah panti rehabilitasi. Bukan hanya pemulihan fisik yang dia alami disana, tapi dia juga dipulihkan jiwanya.

“Tuhan lepaskan saya dari roh perzinahan, Tuhan lepaskan saya dari perjudian, Tuhan lepaskan saya dari narkoba. Sedikit demi sedikit, hari lepas hari, proses itu berjalan dan benar, ada perubahan dalam hidup saya.”

Istrinya pun menyaksikan perubahan Harryanto dan yakin hal itu karena karya Tuhan dalam hidup keluarga mereka.

“Dari hari ke hari  dia semakin ke bentuk, hingga akhirnya suami saya semakin pulih, seperti firman Tuhan katakan, berubahlah dengan pembaruan budimu sehingga kamu tahu mana yang benar, mana yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Saya lihat sendiri dalam diri suami saya bahwa pembaruan pikiran itu hanya dengan firman Tuhan,” ungkap Tjong Lian dengan bahagia.

Saat ini keluarga Harryanto dipulihkan, dan baik dia maupun istrinya bisa saling menerima kekurangan masing-masing. Terlebih lagi Harryanto saat ini telah menyadari bahwa ada yang lebih penting dari uang dalam hidup ini, yaitu Tuhan yang telah menyelamatkan kehidupannya.

(Kisah ini ditayangkan 5 Juli 2010 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber kesaksian:

Harryanto

detail_img

Sejak tahun 1981 bersama pamannya Lim Hendri merintis sebuah usaha di Jakarta. Usaha yang mereka buat adalah dengan membuka toko elektronik. Usaha tersebut berkembang pesat. Setelah satu tahun dibuka, mereka sudah bisa membuka cabang dan hal ini terjadi sampai tahun kelima.

Ketekunannya membuahkan hasil, bahkan setelah Lim Hendri menikah. Dia bahkan sempat membeli sebuah ruko dan juga rumah mewah. Dia menjadi kaya, sehingga kalau mau liburan ke luar kota maupun ke luar negeri sekalipun dia bisa lakukan itu. Saat itu adalah saat yang penuh sukacita dan bahagia.

Di tengah kebahagiaan itulah Lim Hendri melihat kerusuhan. Saat itu mahasiswa berorasi di mana-mana. Dia begitu kuatir sehingga dia cepat-cepat nyetir agar cepat sampai di rumah. Saat itu handphone masih belum ada. Setelah pulang, Lim Hendri memberitahu istrinya apa yang dia lihat di jalan tadi. Namun, dia kembali tenang setelah istrinya mengatakan bahwa hal tersebut tidak ada apa-apa.

Yang mengejutkan adalah keesokan harinya. Ketika Lim Hendri berada di tokonya, dia kembali dikejutkan dengan berita yang datang. Semua karyawan sudah kumpul seperti biasanya jam 7.30 WIB saat itu. Tiba-tiba ada telepon yang masuk jam 10.00 dari saudaranya yang mengatakan bahwa ada pom bensin yang dibakar di daerah Citraland. Beberapa waktu kemudian, dia pun mendengar ada pom bensin yang lain yang juga terbakar. Saat itu juga, Lim Hendri mendengar ada toko / minimarket yang mulai dijarah.

“Saya ketakutan sekali. Saya pikir kan kalau barang dagangan saya ini elektronik, barang yang termasuk barang mahal. Saya kuatir bagaimana dengan dagangan saya. Saya mendengar toko-toko lain barangnya dijarah, nah ini kalau elektronik bagaimana? Kalau toko saya dijarah, bagaimana tanggungan saya untuk pabrik, karena saya kan ambil barangnya dari pabrik. Jadi saat itu saya tetap jaga toko saya.” kisah Lim Hendri saat kerusuhan 1998 tersebut.

Detik demi detik Lim Hendri menunggu sambil berdebar-debar. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menunggu. Namun, keadaan semakin memanas. Lim Hendri benar-benar kalut memikirkan tokonya. Bagaimana dengan dagangannya. Lim Hendri bersikeras bertahan di dalam tokonya. Pada pukul 14.00 WIB, semua tetangganya mulai tutup toko namun Lim Hendri tetap buka. Sampai jam 15.00 WIB, ketika dia melihat situasi tidak memungkinkan lagi, akhirnya dia pulang ke rumah.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Lim Hendri mengatakan bahwa, “Saya melihat toko, rumah, salon, bengkel mobil dijarah. Saya juga dengar ada pemerkosaan dan pemukulan. Waktu saya dengar itu saya jadi takut sekali.”

Setelah sampai di rumahnya, ketakutannya semakin menjadi-jadi ketika salah seorang karyawannya meneleponnya dan mengatakan bahwa tokonya adalah satu-satunya toko yang dibongkar.

“Pak, toko kita satu-satunya toko yang dibongkar…”

“Gimana sekarang keadaannya?”

“Sekarang lagi dibongkar nih, sekarang dibongkar Pak!”

“Sudah terbuka?”

“Hampir, hampir..”

“Di situ saya menangis, bagaimana saya ketakutan. Saya bilang ke Tuhan, ‘Tuhan selamatkanlah saya. Saya ikut Tuhan kan semuanya baik. Ini bagaimana toko saya mau dibongkar. Saya ada pinjaman, saya ada utang di pabrik. Barang-barang bukan semuanya punya saya. Saya harus bagaimana?’ ”

Lim Hendri menerima telepon lagi yang ketiga atau keempat. “Pak, sudah terbongkar..”

Saat itu juga Lim Hendri dan istrinya menangis. Mereka memikirkan apakah mereka bisa membuka toko lagi, apakah bisa dagang lagi. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Di tengah kepanikan yang terjadi, mereka hanya bisa berserah kepada Tuhan. Namun, mereka tak pernah tahu apa yang akan terjadi keesokan harinya.

Pukul 04.00 WIB, Lim Hendri kembali ditelepon oleh karyawannya. Saat itu, karyawannya yang berjumlah 5 orang, sudah standby di depan toko. Mereka mengatakan bahwa mereka akan mengangkut barang dagangan tersebut. Mereka juga sudah minta ijin kepada petugas keamanan di sana.

“Tapi saya minta Bapak keluar, karena sekarang barang dagangan sudah banyak yang hilang. Jadi sudah tidak sesuai dengan stock bagaimana?” kata salah satu karyawannya di telepon. Saat itu juga, Lim Hendri langsung ke toko memakai ojeg. Saat-saat yang masih mencekam tersebut, Lim Hendri pergi ke toko menyelamatkan semua sisa barang dagangannya.

Tanpa diduga, bahaya kembali menghadang. Di sebuah persimpangan, mobilnya dicegat. Mobil tersebut tetap jalan, tapi mereka mengejar. Massa itu bukan hanya mengejar, mereka juga bawa pentungan. Mereka ingin membakar mobil tersebut. Saat itu, Lim Hendri berdoa, “Tuhan, kalau Tuhan memang ada dan hidup, tolong saya. Buat mereka tidak dapat melihat saya lagi.”

Hal yang luar biasa terjadi ketika ada suatu persimpangan jalan yang sudah dekat rumahnya, mereka semua yang mengejar belok kanan, tidak ada yang mengikuti / mengejar Lim Hendri. Berkat bantuan tetangganya, akhirnya sisa barang dagangan itu dapat diamankan.

Tidak sampai di situ, timbul lagi masalah baru. Kali ini, tokonya tidak bisa dibuka. Semua pembayaran toko dipercepat oleh pihak managemen toko. “Saya bingung. Tidak dipercepat saja, saya tidak bisa bayar, apalagi dipercepat. Darimana saya bisa memperoleh uang?”

Seakan tidak pernah habis, masalah demi masalah datang menghampiri. Suatu hari bank menelepon Lim Hendri. Saat itu Lim Hendri baru menyicil ruko harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa akan ada penyesuaian bunga yang berlaku. Dari bunga 15% menjadi 80%, sedangkan toko belum bisa dibuka. Saat itu, Lim Hendri merasakan trauma yang begitu berat, yang belum pernah terjadi selama hidupnya.

Yang tadinya tidak ada masalah, Lim Hendri diperhadapkan dengan banyak hal. Selain utang di bank, Lim Hendri harus bertanggung jawab kepada pabrik. Keadaan sudah tidak mungkin lagi. Dia berniat untuk kabur dan tidak bertanggung jawab atas utang-utangnya. Malahan, dia ingin memulangkan istrinya dulu kepada keluarganya.

Di tengah keputusasaan yang tidak pernah menekannya seberat ini, Lim Hendri beruntung mempunyai teman-teman yang mampu memberinya secercah harapan. Mereka tetap mau berteman dan memberikan masukan kepada Lim Hendri walaupun dia sudah berada di posisi 0 dalam hidupnya, mereka memberikan kekuatan di dalam dirinya.

Mereka mulai berdoa dan menangis di hadapan Tuhan, meminta pertolongan Tuhan. Satu hari demi satu hari, mereka tekun berdoa walaupun tidak nampak hasil dari doa tersebut. “Tapi, saya dapat damai sejahtera. Saya mulai tenang dan berani mendapati kehidupan ini.”

Pada hari ketiga, keajaiban terjadi. Ada empat barang dagangannya yang hilang tersebut, dikembalikan kepada Lim Hendri dengan satu potong surat. “Om Hendri, saya minta maaf, saya minta ampun. Semenjak saya ambil barang ini dan taruh di rumah saya, saya tidak bisa tidur. Kami sekeluarga tidak bisa tidur. Begitu juga dengan teman-teman saya tidak bisa tidur.” Demikian salah satu isi surat tersebut.

Keajaiban tidak sampai di situ saja, ketika krisis menghampiri Indonesia, Lim Hendri justru mendapatkan berkat. Dalam tempo beberapa hari, dollar naik tinggi. Waktu naik tinggi begitu, orang hitam datang ke tokonya dan membeli TV dengan menggunakan uang dollar. Harga TV Rp 350.000 waktu itu menjadi Rp 1.100.000. Semua TV yang ada, diborong sama orang tersebut. Setelah dikirim ke container orang tersebut, dia membayar kontan kepada Lim Hendri.

Transaksi berlanjut lagi. Harga barang dagangannya dinaikkan empat kali lipat. Orang itu banyak membeli dan memakai uang kontan untuk membayarnya. Saat orang bank bertanya kepada Lim Hendri apakah dia sudah bisa membayar cicilan rukonya, dia dengan entengnya bisa menjawab berapa yang harus dia bayar. Bukan hanya itu, Lim Hendri malah bisa langsung membayar lunas. Saat ditanya orang bank, Lim Hendri menjawab, “Itu hanya karena pertolongan Tuhan.”

“Saya percaya, semua itu bisa terjadi hanya karena pertolongan Tuhan Yesus. Apalagi selama kejadian kerusuhan, kalau tidak ada Tuhan, tidak akan ada hari ini.” Demikian ungkap istri Lim Hendri.

Dari kejadian itu, Lim Hendri bisa mengambil hikmah bahwa selama ini dia hanya fokus bekerja dan kurang memperhatikan keluarga. Kalau dulu, Lim Hendri hanya bisa mengambil barang dagangan secara eceran, sekarang dia bisa mengambil secara partai. Itu semua karya Tuhan. Apa yang kita anggap buruk, dapat Dia perbuat luar biasa baiknya dalam kehidupan kita. (Kisah ini ditayangkan dalam Solusi Life di O Channel pada tanggal 16 Juni 2010).

Sumber Kesaksian :

Lim Hendri

Yacob Kusmanto adalah seorang pengusaha sukses di bidang tekstil. Namun, siapa yang menyangka kalau masa kecil Yacob adalah anak yang sangat nakal. Ia selalu melawan orangtua kalau disuruh bekerja, karena itu ayah Yacob lebih sayang kepada saudaranya yang lain.

“Dan itu menimbulkan iri hati”

Pada umur 12 tahun, Yacob belajar Karate dan itu merupakan pelarian Yacob dari ketidaksukaannya pada keluarganya, khususnya kepada ayahnya.

“Dampak dari latihan karate itu membuat saya tidak takut orang. Untuk menutupi kelemahan saya di dalam sekolah, saya seringkali berantem”

Masa SMP hingga SMA adalah masa dimana Yacob menjadi beban bagi keluarganya karena kenakalannya. “Saya juga harus keluar dari rumah karena hubungan saya dengan papa saya terus konflik terus, sehingga saya merasakan tekanan banyak sekali,”

Sampai suatu saat, Yacob mendapat nasihat dari teman wanitanya.

“Saya diberikan satu dorongan dan nasihat untuk saya mengubah kehidupan dan meninggalkan kehidupan yang lama dan itu memberikan inspirasi yang baru buat saya”

Sejak saat itu Yacob memasuki babak baru  dalam hidupnya. Ia berhenti sekolah dan bekerja di pabrik tekstil kenalan ayahnya. “Di tempat seperti inilah dulu saya bekerja. Saya berurusan dengan spare part dan saya harus berani untuk menghadapi sesuatu yang baru. Saya harus belajar untuk bisa menghargai, mencintai pekerjaan yang ada. Dari kesulitan yang ada, mendorong saya untuk lebih maksimal lagi,”

“Saya sebulan diberi gaji empat puluh ribu, tetapi saya ingin memberi lebih dari apa yang saya terima. Saya tidak ingin hidup dari pekerjaan ini, tetapi saya ingin menghidupi pekerjaan ini. Saya tidak mau sikap kerja saya seperti pada umumnya, orang rata-rata. Saya belajar, dan belajar, dan belajar”

Usaha keras Yacob ternyata membawa karirnya ke level yang lebih baik lagi hingga ia siap merintis perusahaannya sendiri. Dimulai dari menjual handuk bekas dari tempatnya bekerja, usaha ini ditekuninya, tahun demi tahun ia lewati dengan keberhasilan. “Allah yang sudah membawa saya adalah Allah yang mampu akan membawa saya lebih jauh lagi karena saya merasa campur tangan Tuhan sangat besar sekali sampai saya bisa duduk menjadi pengusaha”

Latar belakang yang buruk tidak membuat Yacob menyerah dalam meraih masa depannya. Dengan 7 perusahaan tekstil, 23 provinsi di Indonesia ia layani oleh produk-produk dari perusahaannya.

Rahasia Sukses

Seperti orang-orang sukses lainnya di dunia ini, Yacob Kusmanto juga memiliki rahasia tersendiri. Kini, rahasia tersebut dibongkar kepada Anda semua. Selamat membacany

  1. Lihatlah Peluang
  2. Terjunlah ke Pasar/Market
  3. Minta input dari konsumen & pemain untuk mengembangkan produk Anda.
  4. Miliki Semangat
  5. Beri Ruang Untuk Kegagalan. Jangan Mundur !
  6. Jika ingin berekspansi, tetaplah melihat pada kekuatan bisnis.

Lalu bagaimana jika hal diatas sudah dilakukan, namuan usaha kita gagal? Berikut tips mengatasinya:

  1. Mendekatlah kepada Tuhan dan mintalah pertolongan-Nya.
  2. Turunkan standard/gaya hidup.

Cita-cita dan Pendapat Orang Tentang Yacob

Teladan orangtua yang pekerja keras serta kepercayaan dan mentoring dari atasan membuat Yacob menjadi pengusaha dan itu membuat Yacob mempunyai suatu cita-cita. “Sekarang saya juga punya program: membangun anak-anak muda menjadi entrepreneur,”

“Sepuluh tahun yang lalu, saat pertama saya sebagai pembantu rumah tangga gitu lah ya. Sekarang saya memegang salah satu perusahaan, yaitu PT Tirai Pelangi Nusantara yang memproduksi perlengkapan bayi,” ujar Retnowati.

Bagaimana perjuangan Retno hingga menjadi manajer perusahaan? “Saya di waktu senggang, saya belajar menjahit dan saya mulai mengkoordinir dari tim kecil, saya ngajarin teman-teman yang baru sampai dalam grup kecil itu saya sebagai kepala”

“Pak Yacob cukup keras ketika mendidik, mengarahkan. Namun, marahnya atau kerasnya Pak Yacob, saya responi dengan baik. Saya jadikan itu sebagai motivasi buat saya supaya semakin bertumbuh, saya semakin bertumbuh, dan semakin matang”

Nilai-nilai Dalam Berbisnis

Lalu, nilai-nilai apa yang harus dipegang seorang pengusaha dalam mengembangkan bisnisnya? Berikut pemaparan Yakob dan orang-orang yang dimentorkannya menjadi pemimpin:

Profit yang diterima harus digunakan untuk menolong orang lain

  1. Proses harus ada tanggung jawab
  2. Produk jangan menipu konsumen
  3. Bekerja = beribadah.
  4. Miliki mental berani gagal dan berani mencoba dengan iman
  5. Sikap yang baik mendatangkan dukungan
  6. Tuhan pasti menyediakan.

Di akhir kisah kesaksiannya, Yacob pun meninggalkan pesan kepada rekan-rekannya sesama pengusaha. “Mengajak teman-teman yang sudah sukses, yok kita berbagi. Lihat sekeliling kita. Di tangan kita ada sesuatu yang luar biasa, kalau kita mau mengulurkan tangan, terangkatlah mereka semua, terbangunlah semuanya. Sehingga ada satu iklim dimana munculnya pebisnis-pebisnis yang punya karakter yang baik, punya value yang baik, punya warna yang baik menjadi aset bagi bangsa ini,”

Kisah ini ditayangkan 21 Juni 2010 dalam acara Solusi Life di O’Channel.

Sumber Kesaksian: Yacob Kusmanto

detail_img

Sejak kecil, Handoko harus melihat berbagai perlakuan kasar dari papanya terhadap mamanya hanya karena urusan sepele.

“Kalau papa makan, dia selalu minta diladeni. Jika ada sesuatu yang ketinggalan seperti air minum belum diisi, dia langsung gebrak meja dan ngomel-ngomel. Kalau papa marah, pasti pukul mama sambil berkata kasar, ‘Dasar perempuan bego, kenapa airnya belum diisi? Dasar tolol mending gua kawin lagi, cari bini lagi yang lebih pintar dari lu. Lebih baik lu jadi pelacur saja,’” ungkap Handoko di awal kesaksiannya.

Suatu hari papanya sedang ambil sepatu. Karena sepatunya belum disemir, papanya marah dan memukul mamanya dengan sepatu itu. Hal seperti ini sering terjadi, namun Handoko hanya diam dan melihat saja karena dia juga tidak bisa membela mamanya. Sampai suatu saat tanpa Handoko sadari ketika dia pulang dari sekolah dan ingin makan, tiba-tiba papanya muncul dan bertanya dia dari mana.

“Saya bilang habis pulang main sama temen. Pada saat itu papa marah dan berkata, ‘Lebih baik gua kasih makan anjing daripada ngasih makan lu.’ Sempat mama juga mau bela saya dan mama dipukul. Saat itu, saya merasakan sakit sekali dalam hati saya,” ungkap Handoko.

Bukan hanya itu, suatu hari, di rumah tidak ada air dan papanya bertanya kepada Handoko kenapa belum ambil air. Tetapi tanpa menunggu jawaban, papanya langsung memukul Handoko dengan kayu yang biasa dipakai untuk pikulan air.

“Begitu kejam saya dipukul seperti memukul binatang. Tidak dihargai sama sekali, apa saja pasti kena dipukul, di kepala, di kaki,” ungkapnya.

Ketika mamanya ingin membantu Handoko, papanya justru memukul sehingga waktu itu mamanya tidak bisa berbuat apa-apa. Baru setelah selesai Handoko dipukuli, mamanya mendekat dan menyuruh Handoko untuk cepat pergi mencari air. Handoko pun segera pergi meskipun dalam keadaan pincang karena kakinya terasa sakit.

“Akhirnya saya berhenti di rumah orang, saya rasakan sakit yang luar biasa dan saya sempat menangis. Cuma kekerasan, cacian, hinaan dan pukulan yang saya rasakan setiap hari. Saya tidak pernah dapatkan figur seorang bapak yang baik di saat saya membutuhkan,” katanya.

Peristiwa itu begitu membekas dalam hati Handoko sehingga dia menyimpan luka yang sangat mendalam. Handoko memiliki sebuah dendam yang luar biasa, pada suatu saat dia ingin bunuh papanya. Saat dia beranjak dewasa, kebencian Handoko pun memuncak. Suatu malam, dia pulang agak larut malam dan mamanya membukakan pintu untuknya. Ketika papanya melihat hal itu, papanya pukul mamanya menggunakan senter, sekenanya di kepala dan badannya. Handoko mencoba membela mamanya namun papanya tidak berhenti memukul. Handoko pun marah dan berlari ke dapur untuk mengambil pisau.

“Dia dorong papa, papa jatuh ke tempat duduk. Dia bilang, ‘Saya bunuh papa, lebih baik papa mati, saya ga punya papa.’ Saya sama mama menjerit, saya bilang, ‘ Jangan Han, itu papa kita,’” kisah kakak Handoko, Susilowati.

“Biar jahat bagaimanapun, itu bapakmu. Saya ga boleh,” tambah mama Handoko, Ibu Liana.

Kekejaman papanya seolah tak pernah berhenti, bahkan saat dia dewasa sebuah kenyataan pahit harus dia terima.

“Saya ikut cicik saya ibadah, papa saya mengetahui semuanya itu dan papa saya marah-marah. Lantas saya diusir. Pada waktu itu papa belum mengenal Tuhan. Baju saya dibuang dan bilang, ‘Lu keluar dari rumah ini, lu ga usah tidur di sini, ga usah makan di sini,” ungkap Handoko.

Akhirnya Handoko pun keluar dari rumah karena pikirnya di rumah pun dia tidak merasakan enak, yang ada cuma cacian makian, buat apa dia di rumah, di luar bisa lebih bebas. Tetapi malam itu Handoko tidak tahu kemana dia akan melangkah, ia pun menjalani hidupnya dengan tujuan yang tidak pasti. Handoko harus tidur di emperan rumah orang.

“Waktu saya diusir, saya minta makan sama mama saya melalui dapur. Beberapa hari itu tidak ketahuan dan akhirnya ketahuan sama papa, mama dipukul,” kenangnya.

Akhirnya dengan berat hati, Handoko mengambil keputusan untuk kembali lagi ke rumah. Namun tidak sampai di situ, sang kakak  pun tidak luput dari perlakuan kasar sang papa.

“Waktu itu papa buang diary saya, sempat saya mau dorong papa. Saya pikir kalau saya tetap tinggal sama orang tua, ga ada damai di hati saya. Saya putuskan saya pergi dulu dari rumah, saya ngontrak. Papa sempat bilang, ‘O, kamu mau bebas, kamu ngontrak itu mau bebas. Pergi, entah kamu mau jadi perempuan ga bener, entah jadi gelandangan.’ Saya hanya diam saja, cuma saya bilang mama, ‘Ma, saya ngontrak bukannya mau cari kebebasan tetapi saya menghindari kebencian saya terhadap papa,” ungkap Susilowati, kakak Handoko.

Tak lama berselang Handoko pun mengikuti jejak kakaknya, ia meninggalkan Jakarta dan bekerja di Banyuwangi, Jawa Timur. Namun Handoko masih membawa dan menyimpan dendam serta bayang-bayang kekerasan dari sang ayah. Pada suatu hari ketika Handoko sedang menyuci pakaiannya, seseorang menyuruh temannya untuk menebang pohon pisang.

“Saya bilang jangan, nanti biar saya saja yang tebang karena kamu ga tahu tetapi orang itu malah berkata, ‘terusin, saya bela sampai ke sorga.’ Akhirnya pohon pisang ini menimpa jemuran saya dan jemuran itu patah. Saya marah dan mengambil celurit lalu saya ingin membunuh dia. Celurit itu sudah sempat menempel di lehernya. Saya bilang, ‘ Coba kamu ngomong lagi, saya bela sampai ke sorga, putus kepala kamu.’ Karena dia sudah tidak berani ngomong akhirnya saya pukul dia dan dia minta maaf,” kenang Handoko mengingat peristiwa tersebut.

Waktu ternyata tidak menyembuhkan dirinya bahkan setelah empat tahun lamanya dendam itu tetap membara, apalagi ketika dia menerima surat yang mengingatkannya pada masa lalunya yang kelam.

“Saya di Banyuwangi, papa saya kirim sebuah surat yang memberi tahu bahwa dia sedang sakit. Saya tidak mau pulang, saya sudah tidak mau membalas sampai beberapa kali sampai dia bilang, ‘Lu, anak keluar dari batu, anak kurang ajar, anak tidak tahu diri,’ begitu ditulis di suratnya itu. Tetapi saya tidak mau tahu, biar saja kalau mau mati, mati saja,” ungkapnya.

Namun hatinya pun luluh, saat kerabatnya mengabarkan bahwa ayahnya sekarat. Handoko akhirnya pulang dan menemui keluarganya. Namun setelah kedatangannya, tak lama berselang ayahnya dipanggil yang maha kuasa. Setelah pemakaman papanya, Handoko berpikir bahwa semuanya sudah selesai mengenai sakit hatinya dan dendamnya kepada papa.

“Ternyata saya merasakan itu belum selesai setelah ada teman saya yang mengajak saya ke satu ibadah. Pada saat itu, pembicara itu mengundang mereka yang sakit hati, yang mengalami kepahitan sama orang tua supaya maju ke depan. Dan saya maju ke depan. Namun saat didoakan, saya tidak dapat mengampuni. Saya melihat seperti film yang diputar mengenai kehidupan saya, masa lalu saya. Peristiwa dicaci, dimaki, dipukuli, dihina, dikatai ‘lebih baik gua ngasih makan anjing dari pada ngasih makan lu.’ Itu sangat menyakitkan. Saat itu saya tidak bisa melupakannya. Tetapi pada waktu itu saya dipaksa untuk mengampuni. Saya tersungkur, dan teriak-teriak bahwa saya tidak akan mengampuni, saya tetap tidak bisa,” kata Handoko.

Pada saat itu, ada satu bapak tinggi besar datang dan memeluk Handoko dan mengatakan bahwa dia berharga dimata Tuhan dan Tuhan mengasihinya.

“Saat itu seperti Tuhan sendiri yang memeluk tubuh saya dan ada rasa kehangatan di dalam pelukan itu. Saat itu pembina saya membimbing supaya saya menyebutkan nama papa saya dan mengampuni dia. Pada saat saya mengatakan, ‘Papa, saya mengampuni papa, apa yang papa buat selama ini terhadap saya, saya mengampuni papa.’ Disitu saya rasakan ada satu pelukan kasih sayang yang luar biasa seperti Tuhan sendiri yang memeluk saya dan hati saya benar-benar merasa plong, semua masalah itu memang sudah hilang.”

Kini Handoko telah dipulihkan dari kepahitan yang selama ini membelenggu jiwanya.

“Saya mengucap syukur kepada Tuhan Yesus. Ketika Tuhan memulihkan hidup saya dan saya mau belajar mempraktekkan apa arti kasih dan pengampunan itu dalam hidup saya. Dengan mengampuni, saya mendapatkan kasih, sukacita, dan damai sejahtera dari Tuhan Yesus. Dan itu yang sudah saya rasakan sekarang. Kalau saya tidak mengampuni, pasti saya menyimpan kepahitan itu mungkin sampai saya mati, saya tidak tahu seperti apa hidup saya. Tapi setelah saya mengampuni, sukacita saya dapatkan karena pengampunan itu benar-benar yang membebaskan hidup saya dan kasih Tuhan itu berlaku bagi orang-orang yang mengampuni.” (Kisah ini sudah ditayangkan 27 Mei 2010 dalam acara Solusi Life di O Channel).

Sumber Kesaksian :

Handoko

detail_img

Sejak kecil Emanuel Gatot di ajar oleh orangtuanya dengan keras dan tidak takut berkelahi. Hal tersebut membuatnya tumbuh menjadi orang yang haus akan ilmu kedigdayaan agar tidak mudah dikalahkan lawan-lawannya. Berguru kepada dukun-dukun dan melakukan berbagai ritualpun dijalananinya.

Suatu saat Gatot bersama beberapa orang temannya menimba ilmu gaib dari seorang dukun, “Kami waktu itu mandi air kembang dan melakukan prosesi untuk menerima ilmu. Lalu satu persatu kami dipanggil ke suatu ruangan dimana guru saya sudah ada disitu dengan menyan dan beberapa gelas air kembang, kita kemudian dibacain mantra, lalu kita disuruh minum air putih tersebut sampai habis. Karena kalau tidak sampai habis, ilmu kita tidak akan sempurna. Pertama kami minum saya bersemangat, tapi pas sampai di mulut.. rasanya seperti anyir.”

Setelah itu Gatot dan teman-temanya di beri kertas yang berisi mantra untuk di hafalkan. Semua itu dijalani Gatot demi mendapatkan ilmu gaib yang bernama “Sembilan Siluman.”

Tidak yakin dengan ilmu tersebut, Gatot tidak dapat menunggu lagi untuk menjajal ilmu tersebut. Tengah malam itu, Gatot merapal mantra yang sudah dihafalkannya, dan sesuatu yang tidak pernah dilihatnya muncul.

“Saya melihat rupa-rupa siluman dating. Siluman buaya, ular kemudian ada macan. Lalu ada suatu sosok tinggi besar, tapi terus terang saya jujur waktu itu saya takut dua hal, kuntilanak sama pocong, kalau ada itu saya kaget…”  demikian tutur Gatot sambil tertawa mengenang masa itu. “Tapi kalau bentuk yang lain, seperti binatang, saya merasa nyaman.”

Gatot semakin meyakini pentingnya ilmu kanuragan ketika suatu hari dia mencoba menolong seorang temannya yang sedang dipalak sekelompok preman.

“Temen saya dimintain duit, saya datang trus berantem.”

Gatot dikeroyok oleh para preman itu, ia dipukuli dengan kayu, besi, rantai bahkan sepotong paving blok di pukulkan pada kepalanya hingga paving blok itu pecah. Namun hebatnya, Gatot tidak mengalami luka-luka yang cukup serius.

“Ketika saya pulang ke rumah teman saya, pas mau ganti baju, punggung belakang saya merah-merah namun tidak ada luka.”

Tetapi Gatot tidak cukup puas begitu saja dengan apa yang dimilikinya.

“Guru saya pernah bilang, ‘kamu juga bisa cari ilmu kok..” Akhinya saya puasa empat puluh hari, lalu di tengah malam saya bangun, saya keluar telanjang bulet. Kemudian saya baca-baca aja (mantra – red), lalu kemudian suasana berubah. Memang dateng (roh-roh) saat itu.”

Apa yang dilakukan Gatot menarik perhatian roh-roh gaib itu, bahkan benda-benda keramat pun mendatanginya. Suatu malam saat sedang menuju rumahnya, Gatot melihat sebuah sinar jatuh dari langit.

“Saya liat ada sinar jatuh..syut.. saya kejar. Dan ternyata itu sebilah keris. Mungkin karena saya punya pegangan itu, maka saya bisa melihat hal-hal seperti itu.”

Tidak hanya itu, Gatot pun melihat pemandangan-pemandangan aneh dirumahnya. Potongan-potongan tubuh tiba-tiba jatuh dari langit-langit rumahnya, dan sepotong kepala jatuh tidak terlalu jauh dirinya.

“Matanya melihat ke saya… Saat itu saya sedang belajar, saya cuma melihat sekilas lalu saya cuekin aja… sudah biasa seperti itu.”

Tujuan hidupnya adalah menjadi orang paling sakti di seluruh dunia, hal itu mendorongnya meminta sang guru untuk menurunkan ilmu paling sakti yang dimiliki sang guru kepada dirinya.

“Ilmu paling tinggi adalah sepuluh malaikat,” demikian jelas gurunya. “Tapi ini berat, kalau kamu ngga berhasil cuma dua akibatnya, akan gila atau mati.”

Namun Gatot sangat yakin bahwa dirinya mampu menguasai ilmu tersebut, akhirnya sang guru pun menurunkan ilmu tersebut. Benar saja, Gatot sanggup menguasainya dalam waktu singkat.

Untuk membuktikan kemampuan ilmu barunya, Gatot pun mengajak temannya untuk adu ilmu. Temannya menggunakan ilmunya hingga kesurupan seperti macan dan berusaha menyerangnya. Gatot hanya duduk bersila dan merapal mantra untuk menghadapi serangan dari temannya itu.

“Ketika dia melompat, belum sampai dia sudah terlempar balik. Saya sempat tertegun juga, akhirnya saya semakin yakin dengan ilmu saya.”

Namun dibalik kedigdayaannya, Gatot tidak pernah merasakan kedamaian dan ketenangan batin.

“Besok gua kalah ngga ya…? Jadi seperti itu, tidak pernah merasa damai. Ngga pernah merasa cukup. Selain itu lagi tenang-tenang tidur, tiba-tiba ada yang dateng atau ada yang lewat.. jadi saya ngga pernah merasa damai..”

Hingga suatu hari, seorang temannya seperti merendahkan dirinya. Temannya itu berkata bahwa Roh yang di dalam dia lebih besar dari pada roh yang ada di dalam diri Gatot. Hal ini membuat Gatot naik pitam.

“Sampai suatu ketika saya bicara ke dia, ‘Udahlah kita adu ilmu saja.Gua pake ilmu yang ada di dalam diri gua, loe pake apa yang ada di dalam diri loe lah…’”

Gatot pun mulai menggunakan ilmu-ilmu santet untuk menyerang temannya itu, namun temannya itu tidak pernah kena. Rasa penasaran membuat Gatot ingin memiliki “roh” yang ada didalam temannya itu.

Karena tidak satupun ilmunya yang mempan kepada temannya itu, Gatot pun memberanikan diri bertanya kepada temannya itu.

“Kalau gua punya roh yang ada di dalam diri loe, gua bisa ngalahin guru-guru gua dong..?”

“Ooooh bisa.. bahkan loe bisa mengalahkan semua dukun-dukun dan semua ilmu yang ada di dalam dunia ini,” demikian ucap Lucky, teman Gatot itu.

“Wuih..karena memang tujuan saya ingin menjadi orang paling sakti kan.. lalu saya bilang begini, ‘Bisa ngga gua dapet, gua punya roh yang ada didalam diri loe?’”

“Oh bisa..” ujar Lucky.

“Caranya gimana…??”

“Caranya gampang, loe bertobat dan terima Yesus..”
Gatot pun diajak Lucky ke sebuah ibadah, namun bukan berarti Gatot menerima begitu saja ajakan Lucky. Sebelum berangkat ke kebaktian itu, Gatot mempersiapkan semua jimat-jimatnya untuk menjajal kemampuan orang-orang dalam ibadah itu. Namun setibanya di tempat ibadah itu, Gatot merasakan sesuatu yang aneh.

“Saya bolak-balik keluar masuk terus. Setiap kali saya duduk, jimat-jimat saya itu saya pegang dengan hati-hati.”

Lucky pun dibuat penasaran dengan gerak-gerik Gatot, “Ada apa sih..?”

Sambil berbisik Gatot menjawab, “Ini jimat-jimat saya..”

“Udah taro bawah aja…”

”Eh… ati-ati..!!”

Hingga akhirnya firman Tuhan diberitakan dan sang pembicara berkata bahwa Roh Tuhan lebih besar daripada roh yang ada di dunia ini. Mendengar kebenaran firman Tuhan itu, hati Gatot terbuka. Namun keinginannya untuk bertobat tidaklah semudah yang ia bayangkan.

“Waktu saya diajak untuk berdoa terima Yesus, baru saja saya berkata ‘Tuhan’ mulut saya terkunci.”

Roh-roh jahat yang ada di dalam diri Gatot sepertinya tidak rela dengan pertobatannya. Tubuh Gatot seperti ditarik-tarik, namun dirinya berusaha melawan dengan menggenggam tangannya.

“Kalau saya lepas (tangan – red) saya mungkin akan manifestasi gerakan macan atau gerakan lainnya. Sampai akhirnya seorang hamba Tuhan melihat saya, lalu menumpangkan tangan ke atas kepala saya, dan saat itu saya berteriak.”

“Dalam nama Yesus, diam!!” demikian hardik hamba Tuhan itu.

Saat Gatot diam, tubuhnya bergetar dan dirinya merasakan hadirat Tuhan, suatu perasaan damai yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. Hari itu juga, akhirnya Gatot menghancurkan semua jimat yang ia bawa dan tidak pernah kembali lagi mencari ilmu-ilmu gaib.

“Kadang masih ada keinginan untuk saya kembali nonton film-film horror, tapi hal itu saya lawan dengan saya berdoa dan juga ada istri saya yang menegur saya serta menguatkan saya. Saya menceritakan pengalaman hidup saya ini agar setiap kita tidak lagi terlibat kuasa kegelapan, karena ketika kita terlibat dengan kuasa kegelapan kita menjadi orang yang bodoh dan kita menanggung suatu resiko yang membahayakan hidup kita dan hidup orang-orang yang kita kasihi.”

(Kisah ini sudah ditayangkan 26 Mei 2010 dalam acara Solusi Life di O Channel).

Sumber Kesaksian :

Emanuel Gatot