Archive for the ‘Renungan/Devotion’ Category

Wawancara Dengan Tuhan

Posted: 12 November 2010 in Renungan/Devotion
Tags: ,

detail_img

Aku bermimpi melakukan wawancara dengan Tuhan.

“Masuklah,” kata Tuhan. “Jadi, Anda ingin melakukan wawancara dengan saya?”

“Jika Anda punya waktu,” jawabku.

Tuhan tersenyum dan berkata, “Waktu saya adalah kekal. Ini cukup untuk melakukan apapun. Pertanyaan apa yang ada di pikiran Anda yang ingin ditanyakan pada saya?”

Aku bertanya, “Hal apa yang paling mengejutkan Anda yang Anda temukan pada manusia?”
Tuhan berpikir sebentar dan kemudian menjawab, “Mereka bosan menjadi anak-anak dan buru-buru ingin bertumbuh dewasa, dan kemudian ingin kembali menjadi anak-anak.

Bahwa mereka mengorbankan kesehatan mereka demi menghasilkan uang dan kemudian menggunakan uang itu untuk memulihkan kesehatan mereka kembali.

Mereka begitu cemas tentang masa depan, tapi mereka lupa untuk hidup di saat ini, akhirnya mereka tidak hidup di masa kini maupun di masa depan.

Mereka hidup seolah-olah mereka tidak akan pernah mati, dan akhirnya mereka mati seperti mereka tidak pernah hidup.”

Tuhan menaruh tangan saya di atas tangannya dan kami terdiam sebentar. Kemudian aku bertanya,

“Sebagai orangtua, pelajaran hidup seperti apa yang Anda ingin agar anak-anak Anda pelajari?”
Tuhan menjawabnya sambil tersenyum, “Belajar bahwa mereka tidak bisa membuat orang lain mencintai mereka. Yang mereka bisa lakukan hanyalah membiarkan diri mereka dicintai.

Untuk belajar bahwa tidak baik membandingkan diri mereka dengan orang lain. Setiap orang akan di hakimi atas tindakannya masing-masing, bukan berdasarkan perbandingan antara satu sama lin.

Belajar bahwa orang kaya bukanlah mereka yang memiliki banyak hal, namun mereka yang memiliki kebutuhan paling sedikit.

Mereka juga harus belajar hanya membutuhkan beberapa detik untuk melukai orang yang kita cintai, dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyembuhkan mereka.

Belajar untuk memaafkan dengan menerapkan pengampunan. Belajar bahwa ada orang yang sangat mencintai dirinya, namun orang itu tidak tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan atau menunjukkan perasaannya itu.

Belajar bahwa uang bisa membeli segalanya kecuali kebahagiaan.
Belajar bahwa dua orang dapat melihat satu hal yang sama namun memiliki dua pendapat yang jauh berbeda.

Belajar bahwa teman sejati adalah seseorang yang tahu segala sesuatu tentang hidupnya… namun tetap mengasihinya.

Saya duduk disana sambil menikmati kunjungan saya di rumah Tuhan itu.

Lalu saya mengakhirnya dengan berterima kasih atas waktu-Nya dan atas semua yang telah Ia lakukan untuk saya dan keluarga saya.

Dia menjawab, “Tentu. Kapan saja, 24 jam saya ada disini. Yang Anda harus lakukan hanyalah bertanya pada saya dan saya akan menjawabnya.”

Sumber : Inspirationalstories.com

Sendok Surga dan Sendok Neraka

Posted: 27 September 2010 in Renungan/Devotion
Tags: ,
Suatu ketika seorang manusia diberi kesempatan untuk berkomunikasi dengan Tuhannya dan berkata, “Tuhan ijinkan saya untuk dapat melihat seperti apakah Neraka dan Surga itu.”
Kemudian Tuhan membimbing manusia itu menuju ke dua buah pintu dan kemudian membiarkannya melihat ke dalam.
Di tengah ruangan terdapat sebuah meja bundar yang sangat besar, dan di tengahnya terdapat semangkok sup yang beraroma sangat lezat yang membuat manusia tersebut mengalir air liurnya. Meja tersebut dikelilingi orang-orang yang kurus yang tampak sangat kelaparan.
Orang-orang itu masing-masing memegang sebuah sendok yang terikat pada tangan masing-masing. Sendok tersebut cukup panjang untuk mencapai mangkok di tengah meja dan mengambil sup yang lezat tadi.
Tapi karena sendoknya terlalu panjang, mereka tidak dapat mencapai mulutnya dengan sendok tadi untuk memakan sup yang terambil.
Si Manusia tadi merinding melihat penderitaan dan kesengsaraan yang dilihatnya dalam ruangan itu.
Tuhan berkata, “Kamu sudah melihat NERAKA.”
Lalu mereka menuju ke pintu kedua yang ternyata berisi meja beserta sup dan orang-orang yang kondisinya persis sama dengan ruangan di pintu pertama. Perbedaannya, di dalam ruangan ini orang-orang tersebut berbadan sehat dan berisi dan mereka sangat bergembira di keliling meja tersebut.
Melihat keadaan ini si Manusia menjadi bingung dan berkata “Apa yang terjadi ? Kenapa di ruangan yang kondisinya sama ini mereka terlihat lebih bergembira ?”
Tuhan kemudian menjelaskan, “Sangat sederhana, yang dibutuhkan hanyalah satu sifat baik.”
“Perhatikan bahwa orang-orang ini dengan ikhlas menyuapi orang lain yang dapat dicapainya dengan sendok bergagang panjang, sedangkan di ruangan lain orang-orang yang serakah hanyalah memikirkan kebutuhan dirinya sendiri.”

Roma 8:14: Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.

Sebuah prinsip yang harus Anda pelajari untuk menemukan dan hidup dalam kehendak Allah adalah prinsip untuk berserah.

Kita telah dipindahkan dari kematian kepada kehidupan dengan karya Yesus Kristus di kayu salib.Untuk itu kita harus menyerahkan hidup kita untuk-Nya. Kita harus menyatakan kepada Tuhan, “Ini saya Tuhan, lakukanlah apa yang Engkau mau atasku.”

Saya masih remaja ketika saya merasa Tuhan memanggil saya untuk berkotbah. Saya pergi kepada hamba Tuhan dan berkata bawa Tuhan telah memanggil saya untuk berkotbah. Saya berkata, “Saya hanya mau tahu apa yang Tuhan mau agar saya lakukan. Jika Dia tidak memanggil saya untuk itu, lebih baik Dia beritahu saya.”

Hamba Tuhan itu menjawab, “Jack, pulanglah, jalani hidupmu di sekolah, di tim baseball-mu, dan dengan teman-teman sekelasmu. Hiduplah untuk Kristus setiap hari. Menangkan temanmu bagi Kristus, jadi ketika dia memanggilmu dan menunjukkan apa yang Ia mau untuk kamu lakukan, kamu akan siap.”

Itu adalah nasihat yang bagus. Dan nasihat itu yang saya berikan untuk Anda.

Berserahlah sepenuhnya kepada Tuhan. Naikkan doa sederhana ini, “Tuhan, Engkaulah penguasa hidupku. Saya akan lakukan apa yang Engkau mau agar aku lakukan, bukan apa yang aku inginkan.” Lalu ikuti apapun yang Tuhan pimpin untuk Anda lakukan. Demikianlah Anda hidup dalam kehendak Tuhan. (Penulis Jack Graham)

Mari katakan, “Ini aku Tuhan, aku akan lakukan kehendak-Mu.”

Dia Saja Tuhan, Jangan Saya

Posted: 20 August 2010 in Renungan/Devotion
Tags:
II Korintus 4:11
“Sebab kami yang masih hidup ini, terus menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini”

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 51; Markus 1; Yesaya 53-54

Suatu kali seorang gembala gereja mendekati salah satu jemaatnya yang diketahui sangat setia selama ini beribadah di tempat gembala ini menjalankan pelayanannya. Dalam suasana yang santai, keduanya pun bercakap-cakap. Setelah merasa suasana sudah mencair, gembala ini pun menyatakan maksud sebenarnya kepada jemaatnya ini, yakni meminta kesediaan jemaatnya ini untuk menjadi pelayan di gereja tersebut. Dengan wajah yang tetap sumringah, jemaat ini menyatakan penolakan ajakan gembalanya. “Jangan saya pak pendeta, teman saya saja yang juga setia disini yang pak pendeta untuk jadi pelayan. Dia lebih mempunyai ketrampilan daripada saya. Saya sudah senang kok jadi jemaat biasa saja.”

Dalam kehidupan gereja saat ini kita kerap mendengar jawaban-jawaban seperti salah seorang jemaat diatas. Dibungkus alasan perasaan tidak layak atau kurang pandai, mereka menolak ajakan untuk menjadi pelayan-pelayan Tuhan diatas muka bumi ini. Padahal, bila kita melihat lebih jauh lagi, yang mengajak seseorang untuk menjadi pelayan Tuhan adalah bukanlah manusia semata, tetapi Sang Pemilik pelayanan itu sendiri, yaitu Allah sendiri.

Musa pernah melakukan hal ini saat Dia dipanggil Tuhan untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Dengan alasan kurang cakap berbicara, ia menolak undangan Tuhan. Namun, bersyukur karena kita memiliki Allah yang tidak cepat putus asa dan sebagaimana yang kita tahu Musa akhirnya menyerahkan dirinya untuk mengikuti perintah Tuhan.

Setiap kita saat ini memiliki pilihan, apakah mau menyerahkan diri untuk menjadi hamba Tuhan di muka bumi ini atau tidak? Hamba Tuhan bukanlah hanya orang yang pelayanan di dalam sebuah gedung gereja, tetapi dimana kita saat ini berada itulah ladang pelayanan yang Tuhan serahkan untuk kita kerjakan. Terimalah undangan ini karena menjadi pelayan Tuhan adalah anugerah yang tidak semua orang dapat menerimanya.

Tuhan tidak pernah salah mengundang orang untuk menjadi pelayan-Nya di atas muka bumi ini.

Nats : Orang benar akan bersukacita karena Tuhan dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah (Mazmur 64:11)

Bacaan : Mazmur 64
Mampukah kita hidup normal di tengah orang-orang gila? Mungkin saja mampu, tetapi pasti tidak gampang. Satu atau dua hari mungkin kita masih bisa bertahan hidup sebagai orang normal di tengah orang gila, tetapi lama kelamaan kita pasti akan menjadi bingung sendiri; siapa yang gila dan siapa yang normal.

Begitulah kira-kira kondisi yang sedang kita hadapi pada zaman sekarang ini. Kita akan selalu diperhadapkan dengan sistem atau bahkan orang yang tidak menyukai kejujuran dan kebenaran. Jujur menjadi sebuah kata yang mahal. Pada waktu kita berusaha menjadi jujur, tidak jarang orang malah membenci kita dan menganggap kita sok suci. Apa yang harus kita lakukan dalam kondisi yang seperti ini?

Daud pernah mengalami hal seperti itu. Dalam Mazmur 64, ia berteriak karena dikelilingi oleh orang-orang fasik yang tidak menyukai hidup benar dan jujur, seperti yang dijalani olehnya. Dan, Daud tidak bisa melawan atau berbuat apa-apa. Jadi, yang ia lakukan adalah datang kepada Tuhan dan berdoa dengan keyakinan, bahwa orang yang benar dan jujur tetap berada dalam lindungan Tuhan.

Mungkin kita pun akan mengalami hal serupa. Keadaan dunia saat ini bisa memaksa kita untuk berbuat tidak jujur. Akan tetapi, marilah kita memantapkan langkah untuk selalu bertindak jujur, berapa pun besar risiko yang harus kita tanggung. Dan, kemantapan langkah itu kita iringi dengan keyakinan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita terantuk. Dia akan senantiasa menyertai dan melindungi kita –RY

JANGAN TAKUT UNTUK BERLAKU JUJUR

KARENA TUHAN MELINDUNGI ORANG JUJUR

Amsal 24:16
“Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali”

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 20; Matius 20; Amos 8-9

Penyelenggaraan Piala Dunia 2010 telah berakhir dan kita pun sudah mengetahui negara manakah yang membawa pulang trofi ajang empat tahunan ini. Walaupun begitu, banyak hal yang ternyata bisa dipetik dari ajang sepakbola sejagat ini. Salah satunya mengenai tidak lolosnya tim tuan rumah, Afrika Selatan ke putaran perdelapan final (16 besar).

Tim berjuluk Bafana Bafana ini sempat diunggulkan sejumlah pihak akan lolos dari putaran  pertama karena posisinya sebagai negara penyelenggara PD 2010. Menurut kebiasaan, negara yang menjadi tuan rumah akan selalu lolos ke putaran kedua. Akan tetapi, hal ini ternyata tidak berlaku bagi timnas Afsel. Kalah dalam selisih gol dengan Meksiko membuat impian Mokoena dkk mengangkat trofi piala dunia hilang sudah.

Walaupun tak melaju ke perdelapan final, pelatih timnas Afsel Carlos Alberto Parreira memiliki pandangan yang berbeda mengenai apa yang terjadi dengan timnya. “Kami kecewa karena tidak lolos, tapi saya tidak melihatnya sebagai sebuah kegagalan,” ujar Parreira.

Timnas Afsel memang tidak bisa maju ke putaran selanjutnya, namun di hadapan para pendukungnya, skuad Carlos Alberto Parreira menorehkan tinta manis yakni mengalahkan juara Piala Dunia 1998 dan juara Eropa 2000, Prancis, pada laga terakhir grup A dengan skor 2-1.

Dalam hidup ini kita memiliki banyak target pribadi. Setiap target yang telah kita buat, kita mau itu terjadi dalam kehidupan kita. Bahkan dengan keyakinan ‘saya sudah mendoakannya kepada Tuhan’, kita begitu percaya diri bahwa target kita tersebut akan terealisasi pada waktu yang sudah kita doakan. Akan tetapi, dalam kenyataannya hal ini kerap tak berjalan dengan semestinya.

Apa yang kita pikirkan akan berhasil atau tercapai ternyata dalam realisasinya tidaklah demikian. Kita mungkin di awal tahun membuat target agar di pertengahan tahun memiliki atau mendapatkan sesuatu. Tetapi, sampai waktu yang direncanakan, hal tersebut tidak terjadi. Rasa kecewa pasti ada ketika apa yang kita targetkan meleset. Namun, janganlah itu dilihat sebagai sebuah kegagalan.

Satu kekalahan atau tidak tercapainya target-target tertentu bukan berarti kita gagal. Justru ini adalah kesempatan terbaik untuk mengintrospeksi diri dan belajar bersyukur atas segala kebaikan yang sudah kita terima dari Tuhan.

Orang berhasil bukanlah orang yang targetnya tidak pernah meleset, tetapi orang yang tak pernah putus asa sekalipun apa yang ditargetkan meleset dari yang direncanakan.

Give the Best For Him

Posted: 24 June 2010 in Renungan/Devotion
Tags:

II Korintus 9:6
“Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.”

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 25; Filipi 2; 1 Raja-Raja 11-12

Ayat diatas merupakan salah satu kebenaran alkitab yang mengajarkan prinsip tabur tuai. Jika kita menabur, maka pasti akan menuai dengan apa yang kita tabur. Tanpa mengurangi pengertian diatas, yang ingin saya sampaikan saat ini bukan soal menuai “sedikit atau banyak”, tetapi kesediaan kita untuk memberi menurut kerelaan hati masing-masing memberi dengan rasa syukur dan sukacita, tanpa rasa sedih dan paksa.

Tuhan mau kita memberi bukan karena hal kebiasaan atau rutinitas, tetapi Dia mau kita memberi dengan tulus dan ikhlas. Pemberian yang Tuhan kehendaki adalah bagaimana cara kita memberi dan apa motivasi kita dalam memberi kepada-Nya. Milikilah nilai dan makna yang benar agar pemberian kita berbau harum di hadapan Tuhan.

Banyak orang Kristen yang berorientasi kepada “berkat yang akan mereka terima” ketika mereka memberi untuk Tuhan. Mereka percaya bahwa kalau mereka memberi kepada Tuhan, maka Tuhan akan balas memberkati mereka. Hal ini tidaklah salah, tetapi jika orang Kristen memberi dengan motivasi seperti itu, justru mereka menjadi kecewa dan menyalahkan Tuhan. Ketika mereka belum mendapatkan berkat, mereka akan berkata, “Saya kan sudah banyak memberi kepada Tuhan, kok sampai sekarang hidup saya masih begini-begini saja?” dan masih banyak lagi nada ungkapan kekecewaan pada Tuhan.

Tuhan mengasihi orang-orang yang memberi dengan sukacita sebagai persembahan yang keluar dari hati yang tulus, sebagai wujud kasih kepada-Nya yang telah begitu baik bagi kita semua, tanpa mengharapkan balasan apapun dari Tuhan dan kita wajib memberi persembahan yang terbaik bagi Tuhan.

Bagian kita adalah memberi dengan tulus, dan bagian Tuhanlah yang akan memberkati kita seturut kasih dan kemurahan-Nya. Jangan kita pernah berpikir bagaimana saya memberi supaya Tuhan membalas, tetapi mulailah kita berpikir bagaimana cara saya memberi sehingga Tuhan berkenan atas pemberian saya. Marilah kita memberi dengan tidak termotivasi oleh berkat, tetapi oleh kesadaran, bahwa memberi kepada Tuhan adalah bagian dari ibadah kepada Tuhan.

Memberi yang terbaik kepada Tuhan adalah sesuatu yang seharusnya setiap orang Kristen lakukan.

Sumber: Kingdom Magazine Juni 2009