Nats : Orang benar akan bersukacita karena Tuhan dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah (Mazmur 64:11)

Bacaan : Mazmur 64
Mampukah kita hidup normal di tengah orang-orang gila? Mungkin saja mampu, tetapi pasti tidak gampang. Satu atau dua hari mungkin kita masih bisa bertahan hidup sebagai orang normal di tengah orang gila, tetapi lama kelamaan kita pasti akan menjadi bingung sendiri; siapa yang gila dan siapa yang normal.

Begitulah kira-kira kondisi yang sedang kita hadapi pada zaman sekarang ini. Kita akan selalu diperhadapkan dengan sistem atau bahkan orang yang tidak menyukai kejujuran dan kebenaran. Jujur menjadi sebuah kata yang mahal. Pada waktu kita berusaha menjadi jujur, tidak jarang orang malah membenci kita dan menganggap kita sok suci. Apa yang harus kita lakukan dalam kondisi yang seperti ini?

Daud pernah mengalami hal seperti itu. Dalam Mazmur 64, ia berteriak karena dikelilingi oleh orang-orang fasik yang tidak menyukai hidup benar dan jujur, seperti yang dijalani olehnya. Dan, Daud tidak bisa melawan atau berbuat apa-apa. Jadi, yang ia lakukan adalah datang kepada Tuhan dan berdoa dengan keyakinan, bahwa orang yang benar dan jujur tetap berada dalam lindungan Tuhan.

Mungkin kita pun akan mengalami hal serupa. Keadaan dunia saat ini bisa memaksa kita untuk berbuat tidak jujur. Akan tetapi, marilah kita memantapkan langkah untuk selalu bertindak jujur, berapa pun besar risiko yang harus kita tanggung. Dan, kemantapan langkah itu kita iringi dengan keyakinan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita terantuk. Dia akan senantiasa menyertai dan melindungi kita –RY

JANGAN TAKUT UNTUK BERLAKU JUJUR

KARENA TUHAN MELINDUNGI ORANG JUJUR

detail_img

Dalam Yosua 1:1-10 dikatakan, “Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian: “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu. Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa. Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi daerahmu. Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka. Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.”

Di dalam kisah di atas, Tuhan berkali-kali mengingatkan Yosua untuk meneguhkan dan menguatkan hatinya. Sungguh luar biasa bahwa setiap apa yang diinjak oleh Yosua akan menjadi kepunyaannya dan orang Israel, Tuhan akan memberikan kepada mereka semuanya itu. Hanya satu syarat yang diminta Tuhan yaitu mereka menguatkan dan meneguhkan hati mereka.

Dalam hal apa? Tuhan menginginkan mereka untuk bertindak sesuai dengan hukum yang telah Tuhan tetapkan dan merenungkannya siang dan malam. Tuhan ingin kita taat kepada-Nya dengan sepenuh hati dan pikiran kita. Kita harus percaya bahwa Tuhan memberikan segalanya buat kita asalkan kita melakukan satu hal tersebut. Kita menguatkan dan meneguhkan hati kita di dalam Tuhan.

Tuhan meminta kita untuk memilih berkat atau kutuk, memilih hidup atau mati. Jika engkau melakukan semua yang Tuhan perintahkan maka berkat akan melimpah atasmu. Jika engkau memilih kutuk, jalanilah kehidupan dunia yang rusak ini sesuka hatimu. Apapun yang engkau pilih, baik sadar atau tidak, engkau akan menerima konsekuensinya.

Masalahnya, kita sebagai anak Tuhan, seringkali memikirkan maupun memperkatakan maupun bertindak hal-hal yang negatif, untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. “Saya ini memang begini orangnya, saya memang tidak bisa apa-apa.”, “Saya tahu memang saya lahir dari dengan keterbatasan fisik seperti ini, saya akan mati dengan fisik seperti ini, tidak ada yang dapat saya lakukan untuk mengubahnya.”, “Saya memang tolol, selalu saja melakukan hal-hal bodoh.”, “Hidup saya memang tidak pernah bahagia.”, “Sayalah yang menyebabkan orangtua saya bercerai.” dan masih banyak lagi. Apakah Anda pernah mengucapkan ataupun memikirkan hal-hal yang serupa dengan itu?

Bagaimana bisa kita menguatkan dan meneguhkan hati kita jika pikiran kita dalam keadaan negatif? Pikiran-pikiran itu memberi batasan kepada Tuhan untuk bekerja dalam hidup kita. Kita menjadikan Tuhan menjadi kecil dalam hidup kita. Tuhan ingin agar kita mau dan selalu mengucapkan berkat-berkatNya dalam hidup kita. Jangan kita mengatakan hal-hal buruk tentang diri kita sendiri maupun tentang orang lain sehingga Tuhan bekerja melalui hidup kita.

Jadilah pengikut Kristus yang militan. Yang bagaimanakah itu? Pengikut yang mencintai Tuhan dengan segenap jiwa dan pikirannya, yang selalu mengundang Tuhan dalam setiap perkara yang dia buat, yang selalu memberkati orang lain dan dirinya sendiri, yang peduli kepada sesama, dan yang memperkatakan firman Tuhan kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja dia berada.

Ubahlah pikiran-pikiran maupun perkataan yang negatif menjadi positif. Mungkin Anda akan gagal dan tetap jatuh pada pikiran negatif, tapi itulah gunanya Anda belajar dan Anda merenungkan firman Tuhan siang malam, sehingga pikiran Anda dipenuhi oleh firman Tuhan.

Jadi jika Anda mempunyai suatu penyakit, jangan jadikan penyakit Anda sebagai suatu yang besar yang menuntut semua perhatian Anda dan sepertinya Tuhan tidak bisa berbuat apa-apa untuk penyakit tersebut. Jika keluarga Anda hancur, janganlah Anda lari kepada dunia yang menawarkan kesenangan sesaat yang kemudian akan membuat hidup Anda lebih hancur lagi. Apapun keadaan buruk menimpa Anda, semua itu hanya sementara. Semuanya akan berlalu, tapi firman-Nya tinggal tetap dalam hati dan hidup Anda, selamanya.

main_img

Banyak orangtua membangkitkan kemarahan anak-anak mereka dengan terus-menerus mendesak mereka untuk berprestasi. Paksa anak Anda untuk meraih impian yang tidak pernah Anda raih, maka Anda akan menghancurkan anak Anda.

Tentu saja merupakan tanggung jawab setiap orangtua untuk memberi semangat dan mendorong anak mereka agar mencapai prestasi yang lebih tinggi. Dalam 1 Tesalonika 2:11 Rasul Paulus mengingatkan jemaat Tesalonika mengenai sikap kebapaannya terhadap mereka: “Kamu tahu, betapa kami, seperti bapak terhadap anak-anaknya, telah menasehati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang”.

Nasehat dan sikap kebapaan tentu memiliki tempat di hati anak-anak, tapi perhatikan bahwa hal itu harus diikuti dengan dukungan yang penuh kasih. Orangtua yang hanya mendesak anak-anak mereka untuk meraih prestasi lebih banyak tanpa mendukung mereka di tengah kegagalan mereka sama halnya dengan menggiring anak mereka untuk menyimpan kemarahan. Desaklah anak Anda untuk meraih sasaran yang tidak wajar atau tidak dapat diwujudkan dan Anda akan merenggut semua kesadaran untuk pencapaian dari anak Anda.

Ketika putra-putra saya masih kecil dan terlibat dalam tim olahraga, tampaknya setiap tim yang pernah diikutinya memiliki paling sedikit satu orang ayah yang telah menakut-nakuti putranya jika gagal, sehingga sang anak hidup dalam ketakutan untuk gagal. Akibatnya, ia justru tidak bermain dengan segenap kemampuannya.

Saya mengenal banyak orangtua yang tak henti-hentinya menekan anak mereka tanpa belas kasihan untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. Sebagian besar orangtua itu dimotivasi oleh egoisme belaka. Mereka semata-mata berupaya memenuhi impian masa kecil mereka yang tidak terwujud melalui anak mereka. Ini adalah beban yang tidak adil yang diletakkan pada pundak anak.

Seorang remaja putri cantik yang saya kenal sunguh-sungguh menjadi gila oleh karena tekanan orangtuanya. Saya mengunjungi dia di sebuah kamar yang diberi lapisan-lapisan empuk dimana ia berbaring kaku, tidak bergerak kecuali karena tubuhnya yang bergetar terus-menerus. Sebelumnya, dia adalah seorang murid dengan peringkat tertinggi, seorang pemandu sorak, dan ratu dalam acara reuni alumni. Tetapi semua ini tidak pernah memuaskan orangtuanya.

Ibunya, secara khusus, terus-menerus menekan dia untuk meraih prestasi yang lebih baik lagi, berpenampilan lebih baik, dan berbeda dalam tindakan. Segala sesuatu yang dia perbuat merupakan kesempatan bagi ibunya untuk mengatakan kepadanya bagaimana dia dapat melakukan lebih baik lagi. Dan di bawah tekanan yang begitu banyak, akhirnya dia luluh lantak.

Setelah beristirahat beberapa minggu dan menjalani pengobatan, dia sembuh pada titik dimana ia tidak lagi membutuhkan perawatan. Akhirnya, dia dipulangkan – tepat ke dalam lingkungan dengan suasana panas dan menekan yang diciptakan ibunya bagi dirinya. Tidak berapa lama kemudian, remaja ini kemudian bunuh diri.

Mengapa? Ucapannya kepada saya beberapa saat sebelum kematiannya: “Tidak peduli apa pun yang saya lakukan, hal itu tidak akan pernah memuaskan ibu saya.” Percayalah, wanita muda ini telah mencapai prestasi yang jauh melampaui potensi sang ibu, tetapi sang ibu berupaya menghidupkan khayalannya sendiri melalui putrinya. Sungguh mengerikan! Dia menggiring putrinya untuk marah dan menghancurkan dirinya sendiri.

Source : John MacArthur

detail_img

Anda tidak akan pernah tahu bahwa kata-kata yang Anda ucapkan mungkin berdampak bagi orang lain – bahkan cukup untuk mengubah hati seorang pembunuh. Di Georgia, pada hari Sabtu, 12 Maret 2005, Ashley Smith disandera oleh Brian Nichols setelah Brian melarikan diri dari gedung pengadilan. Brian disidang atas kasus pembunuhan empat orang. Ashley saat itu diberi kekuatan untuk mengucapkan beberapa bagian dari buku yang ditulis Rick Warren, PURPOSE DRIVEN LIFE, kepada Brian. “Brian berkata bahwa ia pikir saya adalah seorang malaikat yang dikirim Tuhan. Saya adalah saudara perempuannya dan ia adalah saudara laki-laki saya yang terhilang. Tuhan telah menuntunnya kepada saya,” ujar Ashley ketika ia menceritakan kembali momen tersebut. Brian kemudian membebaskan Ashley dan menyerahkan diri kepada polisi.

Akulah TUHAN yang menjadikan engkau, yang membentuk engkau sejak dari kandungan (Yesaya 44:2a)

Kelahiran Anda bukanlah suatu kesalahan atau kecelakaan, dan hidup Anda bukan terjadi secara kebetulan atau sekedar fenomena alam. Orangtua Anda mungkin tidak merencanakan kehadiran Anda, tapi Tuhan punya rencana atas hidup Anda. Tuhan sama sekali tidak terkejut atas kehadiran Anda di dunia. Bahkan sebenarnya Ia mengharapkan kelahiran Anda.

Jauh sebelum Anda dikandung oleh orangtua Anda, Anda telah dikandung di dalam pikiran Tuhan. Ini bukan takdir, bukan kebetulan dan bukan keberuntungan jika Anda masih bernafas saat ini. Anda hidup karena Tuhan ingin menciptakan Anda! Firman Tuan berkata, Engkau akan memenuhi janji-Mu kepadaku (Mazmur 138:8a BIS).

Tuhan menentukan setiap detail dari tubuh Anda. Dia sengaja memilih ras Anda, warna kulit Anda, rambut Anda, dan setiap bagian tubuh lainnya. Tuhan membentuk tubuh Anda tepat seperti yang diinginkannya. Tuhan juga menentukan bakat alami yang Anda miliki dan keunikan dari kepribadian Anda. Alkitab berkata, You know me inside and out, you know every bone in my body; You know exactly how I was made, bit by bit, how I was sculpted from nothing into something {Engkau mengenalku baik di dalam maupun di luar, Engkau tahu setiap tulang dalam tubuhku; Engkau tahu secara persis bagaimana aku dibuat, sedikit demi sedikit, bagaimana saya dipahat dari ketiadaan menjadi sesuatu} (Mazmur 139:15 Message Bible).

Karena Tuhan menciptakan Anda untuk sebuah alasan, Ia juga memutuskan kapan Anda akan dilahirkan dan berapa lama Anda akan hidup. Tuhan telah merencanakan hari hidup Anda sejak semula, memilih waktu yang tepat untuk kelahiran dan kematian Anda. Alkitab berkata, Engkau melihat aku waktu aku masih dalam kandungan; semuanya tercatat di dalam buku-Mu; hari-harinya sudah ditentukan sebelum satu pun mulai (Mazmur 139:16 BIS).

Tuhan juga telah merencanakan dimana Anda dilahirkan dan dimana Anda akan hidup untuk memenuhi tujuan-Nya. Ras dan kebangsaan Anda bukanlah sebuah kecelakaan. Tuhan merencanakan semua itu untuk memenuhi tujuan-Nya. Alkitab berkata, Dari satu orang manusia Ia membuat segala bangsa dan menyuruh mereka mendiami seluruh bumi. Ia jugalah yang menentukan sejak semula, kapan dan di mana mereka boleh hidup (Kisah Para Rasul 17:26 BIS).

Tidak ada satu halpun dalam hidup Anda terjadi begitu saja. Semua itu untuk sebuah tujuan.

Yang paling menakjubkan, Tuhan telah memutuskan bagaimana Anda akan dilahirkan. Terlepas dari keadaan lahir Anda atau siapa orangtua Anda, Tuhan memiliki sebuah rencana dalam menciptakan Anda. Tak peduli apakah orangtua Anda itu baik, buruk, atau acuh tak acuh terhadap Anda. Tuhan tahu bahwa kedua individu itu memiliki genetika yang tepat dan persis seperti yang diinginkan-Nya untuk menciptakan kebiasaan Anda seperti Anda yang ada di dalam pikiran-Nya. Orangtua Anda memiliki DNA yang Tuhan inginkan untuk menciptakan Anda. Walaupuan ada orangtua yang tidak sah, tidak ada anak yang tidak sah. Banyak anak yang tidak direncanakan kehadirannya oleh orangtua mereka, tetapi Tuhan tidak pernah tidak merencanakan kelahiran Anda. Tujuan yang Tuhan tetapkan melebihi perhitungan kesalahan manusia, bahkan melebihi dosa sekalipun.

Tuhan tidak pernah melakukan sesuatu secara kebetulan, dan Tuhan tidak pernah melakukan kesalahan. Tuhan memiliki alasan untuk segala sesuatu yang Ia ciptakan. Setiap tumbuhan dan hewan direncanakan oleh Tuhan dan setiap orang dirancang dengan sebuah tujuan di dalam pikiran Tuhan. Motivasi Tuhan saat menciptakan Anda adalah karena kasih-Nya. Alkitab berkata, Long before he laid down earth’s foundations, he had us in mind, had settled on us as the focus of his love, to be made whole and holy by his love {Jauh sebelum Ia meletakkan dasar bumi, Dia memiliki kita di dalam pikiran-Nya, menyelesaikan hidup kita sebagai fokus dari kasih-Nya} (Efesus 1:4a Message Bible)

Allah telah memikirkan Anda bahkan sebelum Ia menciptakan dunia. Bahkan sebetulnya, itulah alasan Tuhan menciptakan dunia! Tuhan merancang lingkungan di planet ini hanya agar kita bisa hidup di dalamnya. Kita adalah fokus dari kasih-Nya dan ciptaan yang paling berharga dari seluruh ciptaan-Nya. Alkitab berkata, Atas kemauan-Nya sendiri Ia menjadikan kita anak-anak-Nya melalui sabda-Nya yang benar. Ia melakukan itu supaya kita mendapat tempat yang utama di antara semua makhluk ciptaan-Nya (Yakobus 1:18 BIS).

Lihatlah betapa Tuhan begitu mengasihi Anda dan menganggap Anda sangat bernilai!

Tuhan tidaklah serampangan, Dia merencanakan semuanya dengan tepat. Semakin banyak para ilmuwan dan ahli biologi belajar tentang alam semesta, semakin kita memahami bagaimana planet ini secara unik cocok bagi keberadaan kita, yang dibuat dengan spesifikasi yang tepat sehingga memungkinkan manusia hidup.

Dr. Michael Denton, peneliti senior dalam genetika molekular manusia di Universitas Otago, New Zealand, telah menyimpulkan, Semua bukti yang tersedia dalam ilmu biologi mendukung proposisi inti bahwa kosmos dirancang khusus secara keseluruhan untuk kehidupan dan manusia sebagai tujuan fundamentalnya, secara keseluruhan di mana semua semua segi realita memiliki makna dan penjelasannya dalam fakta sentral. (Michael Denton, Destinasi Alam: Bagaimana Hukum Biologi Mengungkapkan Tujuan Di Alam Semesta, New York: Free Press, 1998, p.389).

Alkitab telah mengatakan hal yang sama ribuan tahun sebelumnya: Tuhanlah yang menciptakan langit, Dialah Allah! Dialah yang menjadikan dan membentuk bumi, membuatnya kokoh dan tetap berdiri. Ia tidak menjadikannya tempat yang sunyi sepi, tetapi tempat untuk didiami. Dialah yang berkata, “Akulah TUHAN, dan tak ada lainnya (Yesaya 45:18 BIS).

Mengapa Tuhan melakukan semua ini? Kenapa Tuhan begitu repot menghadapi semua persoalan dengan menciptakan alam semesta ini bagi kita? Karena Tuhan adalah Tuhan yang penuh kasih. Kasih semacam ini sulit untuk dimengerti, namun secara fundamental dapat diandalkan. Anda diciptakan sebagai obyek spesial dari cinta-Nya Tuhan! Tuhan menciptakan Anda agar Ia bisa mencintai Anda. Ini adalah sebuah kebenaran untuk membangun hidup Anda.

Alkitab mengatakan kepada kita bahwa Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8). Ayat ini tidak mengatakan bahwa Allah memiliki kasih. Allah adalah kasih! Kasih adalah esensi dari karakter Tuhan. Ada kasih yang sempurna di dalam persekutuan Trinitas, jadi Tuhan tidak perlu menciptakan Anda. Tuhan tidaklah kesepian. Tapi Tuhan ingin menciptakan Anda untuk mengekspresikan kasih-Nya.

Tuhan berkata, Dengarlah Aku, hai keturunan Yakub, kamu semua yang tersisa dari umat-Ku. Aku telah memelihara kamu sejak kamu dilahirkan. Aku tetap Allahmu sampai kamu tua; dan tetap menjaga kamu sampai kamu beruban. Aku menjadikan kamu dan tetap memelihara kamu, Aku akan menolong dan menyelamatkan kamu (Yesaya 46:3-4 BIS).

Jika tidak ada Allah, maka kita semua lahir karena kecelakaan, hasil dari kebetulan acak astronomis di alam semesta. Anda bisa berhenti membaca artikel ini, karena hidup ini pada akhirnya tidak akan memiliki tujuan dan tidak memiliki arti dan makna sama sekali. Tidak akan ada benar atau salah, dan tidak ada harapan di luar tahun Anda yang singkat di bumi.

Tapi Tuhan itu ada dan ia menciptakan Anda untuk sebuah alasan, dan kehidupan Anda memiliki makna yang dalam! Kita akan menemukan arti dan tujuan hanya ketika kita menjadikan Tuhan sebagai titik acuan dalam hidup kita. Kalimat terakhir dari Roma 12:3 (Message Bible) berkata, The only accurate way to understand ourselves is by what God is and by what he does for us, not by what we are and what we do for him {Satu-satunya cara yang akurat untuk memahami diri sendiri adalah dengan memahami siapa itu Allah dan apa yang dilakukannya bagi kita, bukan dengan memahami diri kita dan apa yang kita lakukan bagi-Nya}.

Sumber: Rick Warren

detail_img

Hari itu, tanggal 26 Desember 2004, Paulus Kilikili tetap beraktifitas seperti biasanya di tempat tinggalnya Banda Aceh. Hari itu hari Minggu, Paulus sudah bangun sebelum jam 8 dan sudah membuka warung dagangannya. Sang istri pun sedang menyiapkan makanan. Mereka sama sekali tidak mempunyai firasat akan apapun yang buruk akan terjadi menimpa mereka.

Sekitar jam 8, tiba-tiba terjadi goncangan keras. Mereka mengalami gempa, begitu juga dengan penduduk sekitar, kemudian gempa itupun berlalu saat mereka semua sudah keluar rumah tanpa mengalami cedera apapun. Sekitar 15 menit kemudian, ketika Paulus masih duduk-duduk santai sambil minum kopi di depan warungnya yang juga merupakan bagian rumahnya, tiba-tiba bahaya menghampiri mereka.

Semua penduduk di sana melarikan diri dan berteriak-teriak. Pasalnya adalah air laut naik ke permukaan daratan dan menghantam setiap benda maupun orang yang dihampirinya. Saat Paulus melihat air yang setinggi 15 meter itu menghampirinya, dia hanya bisa pasrah.

Tiba-tiba Paulus dihantam dan tidak sadarkan diri. Yang dia tahu kemudian adalah dia tersangkut di batang kelapa dan berada sekitar dua kilometer jauhnya dari rumahnya karena terbawa tsunami itu. “Saya nggak lari kok saya yang selamat?” begitulah yang dikatakan Paulus sewaktu bersaksi. Sampai air itu surut, Paulus tetap mempertaruhkan nyawanya dengan berpegangan pada sebatang pohon kelapa tersebut.

Setelah air surut, Paulus turun dari batang kelapa itu (Bisa dibayangkan setinggi apa tsunami itu sampai-sampai Paulus bisa tersangkut di pohon kelapa yang begitu tinggi?) Paulus yang sudah terluka parah bermaksud untuk kembali ke rumahnya dan melihat pemandangan yang tidak akan pernah dilupakannya seumur hidupnya. Kakinya begitu kesakitan dan tidak bisa lagi dipakai untuk berjalan.

Saat itu Paulus melihat begitu banyak mayat yang tergeletak di sekitarnya. “Saya sudah sedih dan menangis melihat kejadian itu. Saya juga minta ‘Tuhan, mana keluarga saya? Mana keluarga saya? Selamatkanlah keluarga saya, Tuhan…”

Dalam kondisi tubuh yang penuh luka dan kekuatiran yang mendalam mengenai keselamatan keluarganya, Paulus baru mendapatkan pertolongan menjelang sore dari beberapa orang relawan. “Saya sampai jam 4 sore, baru dibawa ke puskesmas. Sesampainya di sana pun sudah tidak ada makanan maupun minuman. Selama dua hari tidak ada makan dan minum. Baru hari ke-3 Paulus bisa makan minum setelah dibawa ke tempat lain.

Setelah sembuh, Paulus mulai mencari keluarganya. “Waktu saya masih sakit, saya kepikiran mungkin ada keluarga saya yang selamat.” Maka Paulus pun mulai mencari ke tempat-tempat informasi yang tersedia. Dia masukkan keterangan di Koran, masuk ke banyak rumah sakit dan mencari mereka tapi setelah satu tahun, dia tetap tidak menemukan mereka. Bahkan kuburan mereka pun tidak bisa dia temukan.

“Saya sudah pasrah aja sama Tuhan. Sedih banget. Selama 6 bulan saya menangis terus. Saya tidak bisa ketemu anak, istri, cucu saya, menantu saya. Air mata keluar setiap hari, siang malam tidak bisa tidur memikirkan mereka.”

Rasa sedih tak tertahankan, membuat Paulus meninggalkan Aceh dan datang ke Jakarta. Namun, di Jakarta pun dia tidak memiliki tujuan yang pasti. “Lari ke Jakarta, saya tidak punya sanak saudara sekalipun. Tapi daripada stress, saya datang saja.”

Di Jakarta, saat menjelang sore, Paulus pun mencari taksi dan pergi ke hotel yang paling murah. Paulus tidak mengerti tujuan hidupnya di Jakarta. Dia hanya ingin melarikan diri dari kenyataan ditinggal istri dan keluarganya. Hal itu membuat Paulus seperti orang yang kehilangan arah saat di Jakarta.

“Saya bangun pukul 10.00 pagi. Setiap hari saya pergi kemana saja saya bisa, saya tanya orang-orang. Yang saya lakukan kemudian cuma duduk-duduk saja di pinggiran jalan, dimana saja sambil merenung kembali tentang kehilangan yang saya alami. Selama sebulan itu, hanya itulah yang saya lakukan. Sepuluh malam pulang, sepuluh pagi, itulah yang saya lakukan terus menerus.”

Selama sebulan itu, uang Paulus pun habis. Dia kemudian hidup terlunta-lunta. Dia tidur di sembarang tempat dimana saja dia bisa tidur. “Saya tidak ada duit itu. Saya tidur di sana sini, sana sini, saya tidur di dekat polisi cepek. Tapi orang-orang kasihan kepada saya…”

Sebabnya adalah ketika mereka menanyakan dia darimana, Paulus menjawab bahwa dia berasal dari Banda Aceh. Kemudian diapun menceritakan kejadian tragis yang menimpanya. Malahan, para polisi cepek itu memberinya makan. “Besok, kalau Bapak belum makan, datang lagi saja ke sini…” Itulah yang diperbuat oleh polisi cepek ini kepada Paulus.

Berbulan-bulan Paulus hidup jadi gelandangan di Jakarta. Tanpa harapan, tanpa apa-apa dan harus mengharapkan belas kasihan orang lain. Makanya, setiap kali bertemu orang, dia mengharapkan pekerjaan yang bisa menyokong dia untuk bisa makan. Saat Paulus sedang dalam kondisi tubuh lemah dan sakit-sakitan, saat itulah Paulus bertemu dengan seseorang yang tanpa disadarinya, akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.

“Suatu saat, saat saya sakit, seorang hamba Tuhan datang dari gereja kepada saya…”

“Bapak lagi ngapain?” tanya hamba Tuhan tersebut.

Paulus kaget melihat orang tersebut kemudian menjawab, “Saya numpang tidur, Pak. Saya lagi sakit.”

Hamba Tuhan tersebut memberikan kepadanya makanan dan menemaninya selama dia makan. Saat Paulus sudah selesai makan, dia mengatakan, “Pak, tolong cari saya kerjaan. Apa saja yang penting saya bisa makan.”

Hamba Tuhan tersebut meminta Paulus untuk datang kembali minggu depan. Saat yang ditetapkan tiba. Paulus datang dan akhirnya diajak ke salah satu rumah teman hamba Tuhan tersebut. Tanpa dia sadari, di sana Paulus merasakan kasih yang luar biasa dan penerimaan yang sesungguhnya.

“Kondisi Paulus saat itu sangat parah ya… Saya tidak tahu siapa itu Pak Is (Paulus, red) tapi saya mengasihi dia. Saya dan Pak Is tinggal satu kost.” Begitu kisah Lexi Kurmasela, orang yang dimintai bantuan oleh hamba Tuhan tersebut.

“Sekarang kondisinya jauh berbeda. Kalau dulu tujuan hidupnya tidak ada, sukacita tidak ada. Dia menjalani hidup biasa aja. Tapi setelah dia lebih lagi mengenal kasih Tuhan, perbedaannya jauh. Dulu dia membutuhkan sukacita, dulu dia meminta pertolongan kepada orang lain. Sekarang dia memberikan pertolongan dan sukacita kepada mereka yang membutuhkan.” Lexi bercerita.

“Sekarang makan saya teratur, pikiran tidak beban. Saya berpikir, kok bisa saya jadi begini? Saya diubah Tuhan sedemikian rupa dan dipulihkan. Saya berterima kasih kepada Tuhan Yesus, apapun beban yang saya rasakan, sudah Tuhan Yesus angkat. Tuhan memberikan kekuatan bagi saya. Saya percaya Tuhan Yesus adalah Juru Selamat bagi saya sampai selama-lamanya.” (Kisah ini ditayangkan pada acara Solusi Life di O Chanel tanggal 21 Juli 2010)

Sumber Kesaksian :

Paulus Kilikili

detail_img

Tahukah Anda ketika demam emas sedang melanda Amerika di tahun 1848, ada seorang pemuda yang baru berusia 20 tahun berniat mengadu nasib dengan meninggalkan kota kelahirannya, New York. Namanya adalah Levi Strauss.

Di New York, Levi hanyalah seorang penjual pakaian. Ia berangkat ke California hanya berbekalkan beberapa potong tekstil yang bisa dijualnya selama menempuh perjalanan ke Barat.

Dengan modal nekat yang dimilikinya, sesampainya di California, Levi menjual semua barang yang dimilikinya kecuali segulung kanvas. Segulung kanvas? Apa gunanya kanvas? Siapa yang mau memakai pakaian yang dibuat dari kanvas? Atau memang hal itu mungkin?

Kanvas yang bagi orang tak berguna itu tak membuat Levi menyerah dan berhenti berpikir. Di California, Levi memperhatikan bahwa para pekerja tambang emas memiliki celana yang cepat sekali rusak. Satu-satunya kanvas yang dimilikinya ia gunakan untuk membuat celana kerja dan menjual celana itu kepada para penambang. Ternyata celana dari kanvas itu laku keras. Banyak penambang yang membeli celana kanvas dari Levi.

Levi sebenarnya tidak sepenuhnya suka dengan bahan kanvas. Ia pun mulai memakai bahan lain yang dipesannya dari Genoa, Italia. Para pemintal di sana menyebut bahan tersebut dengan nama “genes”. Levi mengubah nama itu menjadi “jeans”, dan mulailah ia memproduksi celana jeans pertamanya, yang diberi merk “Levi’s”.

Hanya dalam waktu singkat celana ini menjadi “pakaian resmi” para penambang dan koboi, dan akhirnya dapat kita temui sekarang sebagai “pakaian kebangsaan” banyak orang.

Sama seperti Levi, apa yang ada di tangan Anda saat ini? Jangan pernah menyerah karena Anda tidak akan pernah tahu akan menghasilkan apakah hasil kerja tangan Anda sepanjang Anda tidak menyerah dengan keadaan.

Lakukanlah semua kebaikan yang dapat Anda lakukan, dengan segala kemampuan Anda, dengan semua cara yang Anda bisa, di segala tempat, setiap saat, kepada semua orang, selama Anda bisa.
(Samuel Wesley)
detail_img

Aku sudah lama tidak bertemu Rita. Sahabat mulai dari SD. Sekarang kami jadi satu tempat kerjaan. Kami menjadi pelayan rumah makan terkemuka di kota Madura. Dulu kami berpisah saat kami sama-sama lulus SMA. Sekarang aku bertemu dengannya lagi. Meski rinduku sangat mendalam, aku sedikit merasa kecewa. Rita yang sekarang sangat berbeda dengan Rita yang dulu. Rita yang dulu begitu alami dan manis. Sekarang aku selalu melihatnya dengan wajah penuh make up tebal. Dan setauku dulu rambutnya panjang indah. Sekarang dia selalu memakai wig. Dia selalu memakai parfum yang menyengat hidung. Setiap aku bertemu dengannya aku selalu acuh. Aku jadi begitu membencinya. Di antara semua temanku, menurutku dia yang terlihat paling norak. Tapi dia selalu menyapaku dengan ramah. Entah kenapa aku malah merasa jijik melihatnya. Menurutku dia terlalu genit kepada para pelanggan yang datang. Aku benar-benar membencinya. Dia selalu menawariku makan pagi, makan siang, makan malam…begitu seterusnya. Dia tak peduli meski aku begitu membencinya.
Aku benar-benar nggak habis pikir, apa yang membuat dia jadi begitu berubah 180 derajat seperti ini. Meski kuakui kebaikannya masih kuranglebih seperti dulu. Rita sungguh berbeda. Hari itu Rita memintaku untuk pulang bersama ke kos-kosan.
“Dina…pulang bareng aku yah??” Meski aku ingin menolak tapi dia tetap saja membuntuti aku.

“Dina…sebenarnya aku nggak nyangka kalo aku bisa bertemu lagi sama kamu. Di sini…di kota yang jauh dari ortu dan saudara-saudara kita. Aku sangat senang.”

Aku menghentikan langkahku. Melihat wajahnya yang masih ada make up tebal itu. “Aku lebih senang kalo kita nggak pernah bertemu lagi. Kamu bukan Rita sahabatku yang dulu. Sahabatku yang dulu tidak norak dan genit seperti kamu” Dia masih tetap saja tersenyum…..

“Tapi aku tetap menganggap kamu sahabat terbaikku….dulu, sekarang, selamanya tetap sahabat…”

“Dengar…buatku itu nggak penting lagi.”

“Malam ini aku ingin kamu ke kos ku. Aku ingin menceritakan sesuatu. Karena kamu adalah sahabatku. Maka kamu harus tau.”

“Aku tidak mau.”

“Ini permintaanku yang terakhir, Din?” Rita menarik tanganku cepat. Mau tak mau aku mengikutinya. Kosnya tidak terlalu besar, hanya cukup untuk 1 orang saja. Rita menarikku masuk.

“Duduklah”
Aku segera menarik tanganku dan duduk. Rita menuju wastafell dan mencuci mukanya. Sebentar dia memandang ke cermin dan mengambil handuk. Mengusap mukanya hingga kering. Dia berbalik memandangku. Aku tercekat. Bagaimana mungkin? Yang kulihat adalah Rita yang tidak bermakeup tebal. Wajah Rita menjadi sangat tua dan pucat. Mata Rita berkaca-kaca.

“Karena kamu adalah sahabat terbaikku, Din” Aku masih terduduk dengan kaku. Tuhan, alisnya pun ternyata putih. Astaga….Rita memegang wig yang masih terpasang di kepalanya kemudian, dia melepasnya. Tuhan, apa yang sesungguhnya terjadi? Rambut Rita tinggal beberapa helai saja, kepalanya hampir botak.

Aku mendekatinya, menyentuh wajahnya dengan tangan gemetar. Rita mulai meneteskan airmatanya. Aku menyentuh kepalanya. Tuhan, ini benar-benar kenyataan.
“Aku sakit, Din. Aku selalu kesakitan. Setiap malam aku selalu merasakan sakit yang luar biasa. Aku seperti ingin mati saja. Aku ingin mengakhiri semuanya. Tapi aku selalu ingin berjuang. Aku ingin seperti kamu. Yang sehat dan bersemangat.”
“Rit…..aku…”
“Malam ini tdurlah di sini, hari ini rasanya aku begitu lelah” Aku memapah Rita ke sofa. Dia berbaring di atas pangkuanku. “Aku nggak berani memejamkan mata, Din. Aku nggak pernah minum obat dari dokter. Malam ini begitu indah ya Din?”
Aku terdiam. Airmataku tak mau berhenti menetes. Rasanya aku benar-benar ingin memeluk Rita dengan erat. Tapi melihat tubuhnya begitu rentan, aku seolah takut tubuhnya kan lepas satu per satu. Rita mulai memejamkan matanya.

Tuhan….aku telah bersalah kepadanya selama ini. Benarkah aku adalah sahabat yang baik untuknya? Bahkan dalam keadaan yang buruk pun aku tak bisa menerima dia apa adanya…Bahkan aku telah membencinya….Aku bahkan tak menganggapnya sebagai sahabatnya lagi….Tapi dia ternyata tidak berubah..Dia tak berubah….Rita sekarang sama dengan Rita yang dulu….

Gundukan tanah ini belum terlalu kering. Untuk ke-7 kalinya aku datang. Menaburkan bunga mawar kesukaan Rita dan membersihkan makamnya. Aku selalu ingat kata-kata terakhir Rita “Menjadi sahabat bukan hanya saat sahabat itu ada, menjadi sahabat bukan hanya saat sahabat itu baik…..karna sekali menjadi sahabat maka selamanya akan menjadi sahabat…”

Sumber : generasi minyak anggur