Posts Tagged ‘Anak’

main_img

Ajarlah anak Anda untuk mengasihi sesama mereka. Ajar mereka untuk menghargai kebaikan, kemurahan dan belas kasihan:

Amsal 3:27-29
Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: “Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,” sedangkan yang diminta ada padamu. Janganlah merencanakan kejahatan terhadap sesamamu, sedangkan tanpa curiga ia tinggal bersama-sama dengan engkau.

Perintah untuk mengasihi sesama merupakan prinsip dasar dari hukum Musa: “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri: Akulah TUHAN” (Imamat 19:18).

Pada zaman Yesus di bumi, guru-guru tertentu telah memperlunak hukum ini dengan berkata bahwa perintah ini berlaku untuk sesama manusia, bukan kepada musuh. Penafsiran prinsip ini adalah, “Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu” (Matius 5:43). Tetapi Yesus menunjukkan bahwa perintah ini juga berlaku untuk musuh, karena Tuhan bermurah hati kepada orang fasik (Matius 5:44-48). Apakah Anda menyadari bahwa prinsip mengasihi musuh juga merupakan bagian dari hikmat yang tercatat dalam Amsal? Amsal 25:21-22: “Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan TUHAN akan membalas itu kepadamu”.

“Bara api” ditimbun di atas kepala musuh menunjuk pada tindakan membakar hati nurani musuh itu sendiri. Jika Anda berbaik hati kepada seorang musuh, dan api di dalam hati nurani musuh itu sendiri menjadi lumer hingga timbul sikap yang baik kepada Anda, Anda akan menciptakan seorang sahabat daripada seorang musuh. Anda harus mengajar anak Anda, baik melalui pengajaran dan teladan, untuk memperlakukan musuh mereka seperti itu. Karena musuh kita adalah sesama manusia juga. Dan firman Tuhan dengan jelas memerintahkan kita untuk mengasihi mereka.

Yesus mengatakan bahwa perintah untuk mengasihi sesama manusia merupakan hukum terbesar kedua di dalam seluruh hukum (Matius 22:39). Tentu saja hukum yang terbesar adalah Ulangan 6:5: “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”. Seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi bergantung pada kedua hukum ini.

Perhatikan bahwa dua hukum ini sama dengan prinsip pertama dan terakhir dari sepuluh perintah Tuhan: Takut akan Tuhankasihilah sesamamu manusia. Segala sesuatu yang berada di antaranya menyempurnakan dan memperkuat prinsip-prinsip tersebut. Ajarlah prinsip-prinsip itu kepada anak Anda, dan Anda akan mendidik anak Anda menjadi bijaksana. dan

Inilah kewajiban orangtua. Hai orangtua, jika Anda gagal mengajar anak Anda untuk takut akan Tuhan, iblis akan mengajar mereka untuk membenci Tuhan. Bila Anda gagal mengajar mereka untuk menjaga pikiran mereka, iblis akan mengajar mereka untuk memiliki pikiran yang jahat. Jika Anda gagal mengajar mereka untuk mentaati orangtuanya, iblis akan mengajar mereka untuk memberontak dan menghancurkan hati orangtua mereka.

Bila Anda gagal mengajar mereka untuk memilih teman pergaulan dengan hati-hati, iblis akan memilihkan teman pergaulan untuk mereka. Jika Anda gagal mengajar mereka untuk megendalikan nafsu mereka, iblis akan mengajarkan bagaimana memuaskan hawa nafsu mereka. Bila Anda gagal mengajar mereka untuk berbahagia dengan pasangan hidup mereka, iblis akan mengajar mereka untuk menghancurkan pernikahan mereka.

Jika Anda gagal mengajar mereka untuk menjaga perkataan mereka, iblis akan mengisi mulut mereka dengan perkataan najis. Bila Anda gagal mengajar mereka untuk bekerja keras, iblis akan membuat kemalasan mereka sebagai sarana neraka. Jika Anda gagal mengajar mereka untuk mengatur keuangan mereka, iblis akan mengajar mereka untuk menghamburkan uang dan berfoya-foya.

Dan bila Anda gagal mengajar mereka untuk mengasihi sesama manusia, iblis akan mengajar mereka hanya mengasihi diri mereka sendiri. Sebagai orangtua, kita memiliki tanggung jawab yang sangat besar bagi generasi ini dan generasi yang akan datang.

Source : John MacArthur / Kiat Sukses Mendidik Anak Di Dalam Tuhan

Pengasuh Terbaik Buat Anak Anda

Posted: 24 June 2010 in Family
Tags: ,
main_img

Bagi orangtua yang bekerja, rasa khawatir akan keadaan si kecil di rumah kerap menghantui. Mungkin Anda akan beberapa kali menelepon dalam sehari untuk menanyakan kabar si kecil. Bila keadaan benar-benar memaksa Anda untuk meninggalkannya kepada tempat pengasuhan, khususnya pengasuh yang Anda pekerjakan, Anda perlu memastikan bahwa si kecil baik-baik saja di tangannya.

Peran pengasuh anak sangat berperan bagi keluarga yang mempunyai kesibukan tinggi. Tidak jarang kita mendengar bahwa ada pengasuh yang menculik anak majikannya, entah itu untuk dijual, entah karena rasa kasih sayang yang salah sehingga ingin memiliki anak tersebut, entah alasan lainnya.

Lantas, bagaimana memilih pengasuh anak yang sesuai dan benar?

Prosedur standar, lakukan pemeriksaan mengenai latar belakang pengasuh lengkap dengan silsilah keluarganya agar kita dapat mengenal pengasuh lebih jauh. Selain itu, Anda dapat mengenal anggota keluarganya jika suatu hari terjadi masalah yang tidak diinginkan. Pastikan juga, pengasuh berasal dari keluarga yang baik-baik dan tidak ada catatan yang berunsur kejahatan.

Sebelum mempekerjakan seorang pengasuh, teliti dulu kemampuannya dalam mengasuh anak, seperti apa ketika dia mengasuh anak. Kalau mau tindakan yang agak ekstrem, tanpa dia tahu Anda ada di sana melihat, cobalah pelajari bagaimana dia berinteraksi dengan anak Anda. Apakah dia benar-benar pengasuh yang terampil dan mencintai anak-anak?

Semua itu dapat Anda pelajari dari dari perilaku kepribadiannya, tingkah lakunya, perangainya, dan lain-lain. Dengan begitu, Anda dapat menilai sejauh mana karakter pengasuh yang Anda cari.

Yang terakhir adalah perhatikan apakah dia seorang penyabar, apakah anak Anda betah bersamanya (tapi jangan sampai anak Anda terlalu betah bersamanya sehingga Anda dan anak Anda menjadi renggang hubungannya.), apakah dia memperhatikan kebersihan si kecil, dan juga pengasuh tersebut mengetahui, mengerti, dan memperhatikan setiap kebutuhan si kecil dan memberikan kebutuhan yang terbaik buatnya.

Source : berita21

Yacob Kusmanto adalah seorang pengusaha sukses di bidang tekstil. Namun, siapa yang menyangka kalau masa kecil Yacob adalah anak yang sangat nakal. Ia selalu melawan orangtua kalau disuruh bekerja, karena itu ayah Yacob lebih sayang kepada saudaranya yang lain.

“Dan itu menimbulkan iri hati”

Pada umur 12 tahun, Yacob belajar Karate dan itu merupakan pelarian Yacob dari ketidaksukaannya pada keluarganya, khususnya kepada ayahnya.

“Dampak dari latihan karate itu membuat saya tidak takut orang. Untuk menutupi kelemahan saya di dalam sekolah, saya seringkali berantem”

Masa SMP hingga SMA adalah masa dimana Yacob menjadi beban bagi keluarganya karena kenakalannya. “Saya juga harus keluar dari rumah karena hubungan saya dengan papa saya terus konflik terus, sehingga saya merasakan tekanan banyak sekali,”

Sampai suatu saat, Yacob mendapat nasihat dari teman wanitanya.

“Saya diberikan satu dorongan dan nasihat untuk saya mengubah kehidupan dan meninggalkan kehidupan yang lama dan itu memberikan inspirasi yang baru buat saya”

Sejak saat itu Yacob memasuki babak baru  dalam hidupnya. Ia berhenti sekolah dan bekerja di pabrik tekstil kenalan ayahnya. “Di tempat seperti inilah dulu saya bekerja. Saya berurusan dengan spare part dan saya harus berani untuk menghadapi sesuatu yang baru. Saya harus belajar untuk bisa menghargai, mencintai pekerjaan yang ada. Dari kesulitan yang ada, mendorong saya untuk lebih maksimal lagi,”

“Saya sebulan diberi gaji empat puluh ribu, tetapi saya ingin memberi lebih dari apa yang saya terima. Saya tidak ingin hidup dari pekerjaan ini, tetapi saya ingin menghidupi pekerjaan ini. Saya tidak mau sikap kerja saya seperti pada umumnya, orang rata-rata. Saya belajar, dan belajar, dan belajar”

Usaha keras Yacob ternyata membawa karirnya ke level yang lebih baik lagi hingga ia siap merintis perusahaannya sendiri. Dimulai dari menjual handuk bekas dari tempatnya bekerja, usaha ini ditekuninya, tahun demi tahun ia lewati dengan keberhasilan. “Allah yang sudah membawa saya adalah Allah yang mampu akan membawa saya lebih jauh lagi karena saya merasa campur tangan Tuhan sangat besar sekali sampai saya bisa duduk menjadi pengusaha”

Latar belakang yang buruk tidak membuat Yacob menyerah dalam meraih masa depannya. Dengan 7 perusahaan tekstil, 23 provinsi di Indonesia ia layani oleh produk-produk dari perusahaannya.

Rahasia Sukses

Seperti orang-orang sukses lainnya di dunia ini, Yacob Kusmanto juga memiliki rahasia tersendiri. Kini, rahasia tersebut dibongkar kepada Anda semua. Selamat membacany

  1. Lihatlah Peluang
  2. Terjunlah ke Pasar/Market
  3. Minta input dari konsumen & pemain untuk mengembangkan produk Anda.
  4. Miliki Semangat
  5. Beri Ruang Untuk Kegagalan. Jangan Mundur !
  6. Jika ingin berekspansi, tetaplah melihat pada kekuatan bisnis.

Lalu bagaimana jika hal diatas sudah dilakukan, namuan usaha kita gagal? Berikut tips mengatasinya:

  1. Mendekatlah kepada Tuhan dan mintalah pertolongan-Nya.
  2. Turunkan standard/gaya hidup.

Cita-cita dan Pendapat Orang Tentang Yacob

Teladan orangtua yang pekerja keras serta kepercayaan dan mentoring dari atasan membuat Yacob menjadi pengusaha dan itu membuat Yacob mempunyai suatu cita-cita. “Sekarang saya juga punya program: membangun anak-anak muda menjadi entrepreneur,”

“Sepuluh tahun yang lalu, saat pertama saya sebagai pembantu rumah tangga gitu lah ya. Sekarang saya memegang salah satu perusahaan, yaitu PT Tirai Pelangi Nusantara yang memproduksi perlengkapan bayi,” ujar Retnowati.

Bagaimana perjuangan Retno hingga menjadi manajer perusahaan? “Saya di waktu senggang, saya belajar menjahit dan saya mulai mengkoordinir dari tim kecil, saya ngajarin teman-teman yang baru sampai dalam grup kecil itu saya sebagai kepala”

“Pak Yacob cukup keras ketika mendidik, mengarahkan. Namun, marahnya atau kerasnya Pak Yacob, saya responi dengan baik. Saya jadikan itu sebagai motivasi buat saya supaya semakin bertumbuh, saya semakin bertumbuh, dan semakin matang”

Nilai-nilai Dalam Berbisnis

Lalu, nilai-nilai apa yang harus dipegang seorang pengusaha dalam mengembangkan bisnisnya? Berikut pemaparan Yakob dan orang-orang yang dimentorkannya menjadi pemimpin:

Profit yang diterima harus digunakan untuk menolong orang lain

  1. Proses harus ada tanggung jawab
  2. Produk jangan menipu konsumen
  3. Bekerja = beribadah.
  4. Miliki mental berani gagal dan berani mencoba dengan iman
  5. Sikap yang baik mendatangkan dukungan
  6. Tuhan pasti menyediakan.

Di akhir kisah kesaksiannya, Yacob pun meninggalkan pesan kepada rekan-rekannya sesama pengusaha. “Mengajak teman-teman yang sudah sukses, yok kita berbagi. Lihat sekeliling kita. Di tangan kita ada sesuatu yang luar biasa, kalau kita mau mengulurkan tangan, terangkatlah mereka semua, terbangunlah semuanya. Sehingga ada satu iklim dimana munculnya pebisnis-pebisnis yang punya karakter yang baik, punya value yang baik, punya warna yang baik menjadi aset bagi bangsa ini,”

Kisah ini ditayangkan 21 Juni 2010 dalam acara Solusi Life di O’Channel.

Sumber Kesaksian: Yacob Kusmanto

imgAnak-anak seringkali tak mau mendengarkan apa yang orangtua bilang padanya. Tidak perlu marah atau kesal lalu menggunakan kekerasan untuk mengatasinya, karena ada 6 cara agar si kecil mau mendengarkan.

Sebagian besar anak tidak mau mendengarkan orangtuanya karena ingin mendapatkan perhatian lebih. Tetapi hal ini tentu saja tak bisa dibiarkan, karena menjadi pendengar yang baik bisa membantu anak belajar lebih efektif, mengetahui adanya sinyal bahaya, bersosialisasi dengan baik serta bisa menghargai orang lain.

“Karena itu tak terlalu dini untuk mulai mengajarkan anak agar mau mendengarkan orangtuanya, karena anak masih dalam tahap perkembangan sehingga banyak keterampilan yang dimilikinya,” ujar Roni Leiderman dari Family Center, Nova Southeastern University di Fort Lauderdale, Florida, seperti dikutip dari Babycenter, Jumat (18/6/2010).

Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan agar si kecil mau mendengarkan orang lain, yaitu:

Usahakan untuk mendekati anak
Terkadang orangtua berteriak dari tempat yang jauh untuk memberitahu anak, hal ini tidak akan memberikan dampak yang efektif. Usahakan untuk berada setara dengan anak misalnya berjongkok atau agak menunduk sehingga bisa melihat mata anak untuk mendapatkan perhatiannya. Kondisi ini akan membantu anak untuk mau mendengarkan orangtuanya.

Berikan pesan yang jelas dan sederhana
Anak-anak akan sulit menemukan pesan yang diinginkan orangtuanya jika kata-kata yang diucapkan bertele-tele atau terlalu panjang. Jika memang tidak ada pilihan bagi anak, maka sebaiknya tidak menggunakan kalimat pertanyaan. Misalnya “Sudah waktunya untuk masuk ke mobil,” akan berdampak lebih besar dibandingkan, “Ayo naik ke kursi mobil, sayang?”.

Perkuat pesan dengan sering mengulanginya
Pesan yang ingin disampaikan ke anak mungkin tak akan cukup dengan hanya mengucapkannya sekali. Karena itu tak ada salahnya untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan berulang-ulang dengan mengucapkannya, lalu memberi isyarat visual (seperti menjentikkan jari), isyarat fisik (meletakkan tangan di bahu anak dengan lembut) dan mendemonstrasikannya.

Memberikan peringatan
Orangtua bisa memberikan beberapa pemberitahuan terlebih dahulu pada anak sebelum menginginkan perubahan yang besar, terutama jika anak sudah terlihat menikmati kebiasaan tertentu. Peringatan yang diberikan sebaiknya tetap menggunakan kata-kata yang positif dan lembut.

Memotivasi dengan baik
Memberitahu anak dengan berteriak mungkin bisa memberikan hasil, tapi tidak ada yang menikmati proses ini. Sebagian besar anak akan merespons baik ketika orangtua memperlakukannya dengan cara humor, misalnya membuat suara-suara konyol atau menyampaikan pesan sambil bernyanyi. Humor yang baik, kasih sayang dan kepercayaan yang orangtua tunjukkan saat berbicara akan membuat anak mau mendengarkannya.

Jadilah model perilaku yang baik untuk anak
Seorang anak akan meniru tingkah laku dan perkataan dari orang-orang disekitarnya. Karena itu berikan perilaku dan tutur kata yang baik saat berhubungan dengan siapapun, hal ini akan dilihat oleh anak dan membuat anak berpikir bahwa perilaku seperti itulah yang harus dilakukannya.

main_img
Seorang wanita muda, karyawati professional menangis. Pada hari itu, untuk pertama kalinya ia menitipkan bayi laki-lakinya yang berusia empat bulan di tempat penitipan bayi. Ibu muda itu sangat sedih sebab bayi laki-lakinya itu tampak amat tertekan ketika ditinggal di tempat penitipan bayi.Ia tak bisa memusatkan perhatian pada pekerjaannya, pikirannya terus saja dipenuhi oleh bayangan bayi laki-lakinya yang selama ini hampir tak pernah berada jauh dari dirinya. Apa yang harus ia lakukan?

Pada umumnya orang akan berkata kepada ibu muda itu, “Apa yang membuatmu resah? Anakmu nanti juga akan tenang lagi dan jadi terbiasa.” Haruskah ibu muda tadi mengesampingkan saja pikiran-pikirannya tentang bayi laki-lakinya dan memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya serta teman-teman kerjanya?

Setelah ditelusuri, ternyata keresahannya bukan hanya karena ia dan bayinya sama-sama sulit berpisah. Ibu muda itu sebetulnya enggan bekerja lagi. Dalam kehidupannya, dia melihat banyak juga teman sekerjanya yang menitipkan anak-anak mereka yang masih kecil supaya mereka dapat bekerja. Suaminya juga menginginkan ia kembali bekerja sebab gajinya bisa jadi penghasilan tambahan yang lumayan. Atasannya pun ingin ia kembali bekerja, karena secara keseluruhan ia sudah cuti selama lima bulan.

Tampak jelas bahwa ibu muda ini tidak bahagia. Sedikit demi sedikit ia mulai bisa melihat dan yakin apa yang ingin ia lakukan. Ia memutuskan berbicara langsung dengan atasannya untuk menjelaskan bahwa ia mengubah rencananya, meminta maaf atas perubahan rencana itu, dan mengucapkan terima kasih atas pengertian yang diberikan.

Setelah bernegosiasi dengan atasannya, dia memutuskan untuk tetap bekerja tapi sebagai karyawan paro waktu. Ia beruntung sebab ia sendiri adalah seorang yang cakap di bidang kerjanya dan suaminya berpenghasilan cukup, sehingga ia leluasa menentukan pilihannya sebagai karyawan paro waktu. Ia merasa amat lega karena ia menuruti kata hatinya, bukan menuruti berbagai ‘keharusan’ yang dibebankan kepadanya oleh lingkungan.

Tapi bagaimana bila saya tidak punya pilihan? Mungkin itulah yang ada di benak Anda selama ini, yang juga merupakan seorang ibu dari bayi Anda. Banyak perempuan yang suaminya berpenghasilan rendah (bahkan menganggur) atau para ibu yang menjadi orangtua tunggal, sama sekali tak punya pilihan selain bekerja, meskipun mereka sangat ingin memilih bisa berada bersama anaknya.

Yang perlu Anda lakukan adalah buat anak-anak Anda mengerti mengapa Anda harus bekerja dan mereka tidak dapat bersama Anda setiap waktu. Berdasarkan intuisinya, anak-anak akan mengetahui apa yang sebenarnya berlangsung. Jika secara intuitif anak-anak Anda tahu bahwa Anda lebih memilih bersama mereka tapi Anda benar-benar tak bisa mengambil pilihan itu, maka pengaruh buruk karena merasa ditinggalkan, tidak disayang tidak akan ada dan  mereka dapat menghargai diri mereka sendiri (self esteem).

Source : Buku Mendidik Anak dengan Cinta

Yang Perlu Anak Anda Tahu

Posted: 31 May 2010 in Family
Tags: , ,
main_img

Membesarkan anak bukanlah tugas yang mudah. Diperlukan komunikasi yang sehat dan terbuka untuk mengarahkan anak ke arah hidup yang benar.  Apa yang Anda ajarkan akan menentukan pencapaian anak Anda di masa mendatang. Berikut merupakan hal-hal yang perlu Anda  komunikasikan kepada anak Anda :

1. Tujuan Hidup. Coba tanyakan kepada anak Anda, ingin menjadi apa mereka kelak. Hal ini akan membangkitkan sebuah cita-cita, serta memberi mereka pandangan ke mana mereka akan melangkah. Ingatkan mereka bahwa mereka unik dan tak perlu meniru orang lain.

2. Panggilan hidup vs Karir. Panggilan hidup merupakan tujuan hidup sejati yang dimiliki oleh masing-masing orang, sedangkan karir hanya sebatas pekerjaan. Seorang anak perlu diarahkan untuk mencari tahu apa panggilan hidupnya, baru kemudian dia bisa melakukan hal-hal guna mendukung panggilan hidupnya. Ketika mereka menemukan panggilan hidup mereka maka mereka akan menemukan arti hidup mereka.

3. Nilai vs Keahlian. Nilai pelajaran sekolah bukanlah tolak ukur intelektual seorang anak karena tidak ada seorang pun di dunia ini yang ahli dalam segala bidang. Temukan keahlian anak Anda dan bantulah mereka untuk mengembangkannya, karena hal ini merupakan salah satu langkah untuk mengenali panggilan hidup mereka.

4. Faktor Kebahagiaan. Beri mereka pengertian bahwa kebahagiaan mereka tidak tergantung pada siapa pun dan apa yang mereka miliki atau lakukan, namun ketika mereka membagikan hidupnya untuk melayani sesama, itulah kebahagiaan sejati. Hal ini juga akan menjauhkan anak Anda dari sikap egois.

5. Keluarga vs Teman. Keluarga yang baik adalah tempat yang paling aman bagi anak Anda. Jadi, ciptakanlah suasana yang harmonis dalam keluarga Anda, agar anak betah di rumah dan tidak jatuh ke dalam pergaulan yang salah. Kenallah teman-teman anak Anda tanpa menghakimi mereka.

Source : kapanlagi.com

main_img

Ada saatnya anak Anda berubah dari anak kecil yang menimbulkan rasa sayang meskipun ia selalu meminta ini itu menjadi anak yang sulit diatur dan jarang bisa diam. Munculnya berbagai ‘kenakalan’ anak-anak saat berusia sekitar satu setengah tahun sampai dua tahun, bisa membuat cemas orangtua yang menginginkan segala berjalan mulus dan menyenangkan. Untuk itulah, Anda perlu ketegasan tapi penuh cinta dalam mendidik mereka.

Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah mengubah sikap mental. Setelah delapan belas bulan sebelumnya Anda berusaha membuat anak Anda selalu gembira, kini saatnya menyadari perubahan keadaan yang tiba-tiba terbalik, memaksa diri Anda sendiri untuk membuat anak-anak tidak lagi selalu gembira. Kenapa?

Karena biasanya anak-anak itu ‘memudahkan’ Anda untuk menerapkan ketegasan berlandaskan cinta seperti misalnya membongkar lemari es, memanjat pohon, mengotori tembok atau mencoret-coret kursi, lemari, atau apapun yang dapat mengundang perhatian Anda.

Dalam hal ini, tegaslah pada anak Ana sekalipun sebenarnya apa yang mereka lakukan tidak masalah bagi Anda. Hal ini dibutuhkan agar ia menjadi teguh dan memiliki tujuan yang jelas saat beranjak dewasa.

Masalahnya, kadang kala kita ingin menempuh jalan keluar yang mudah, tapi justru jalan keluar yang mudah itulah yang membuat anak-anak merasa bisa meminta lebih banyak lagi, semakin sering mengeluh, dan merengek semakin keras.

Cobalah melihatnya dari sudut pandang seorang anak kecil berusia dua tahun. Selama tahun pertama kehidupannya, ia terbiasa menjadi satu-satunya pusat perhatian. Ia terbiasa mendapat apa yang ia mau. Kemudian bentuk keinginannya semakin beragam dan semakin ganjil. Ia tak mau lagi sekadar disuapi, dipeluk, dicium, dan diganti pakaian kotornya. Ia mencampur semua shampoo dan kondisioner sehingga lantai kamar mandi licin, ia ingin bermain di keramaian lalu lintas, Anda harus menghentikannya, demi kebaikannya sendiri.

Bayi

Bayi belum butuh disiplin. Umurnya baru empat bulan dan dia belum bisa merangkak. Dia terkekeh saja mendengar bunyi lucu yang keluar dari mainannya, dan ia menarik apa saja ke arahnya. Ia juga sering menangis karena begitulah cara bayi normal mengkomunikasikan segala kebutuhannya. Bayi memang bisa sangat merepotkan, tapi itu bukan karena ia nakal, tapi semata-mata mencoba memberitahu Anda apa yang sedang ia butuhkan. Bayi tak butuh disiplin, ia butuh banyak pengertian. Dan dalam kaitannya dengan bayi, yang paling dibutuhkan orangtua adalah tidur.

Anak yang baru bisa berjalan

Akhirnya sang bayi bisa merangkak kemudian berjalan, mondar mandir dengan penuh gairah sambil meraih dan menarik benda apa pun yang mereka lihat, menyelinap ke sela-sela ruang sempit. Bisa dikatakan sepertiga rumah Anda menjadi wilayah kekuasaannya.

Anak yang baru bisa berjalan juga bisa memanfaatkan sejumlah kata sakti yang langsung bisa memberinya apa yang ia inginkan, “Tutu!”, “Endong”, “Maem”. Anak Anda mulai melakukan hal yang yang tidak mungkin Anda biarkan. Dia akan selalu mencoba berjalan menuju suatu tempat yang terlarang baginya, lalu memandang ke arah Anda dengan senyum jahil, sebab pada dasarnya ia menghendaki ada yang melarangnya. Itu merupakan pesan tak sadar yang meminta batasan-batasan yang dia perlukan dari orangtuanya. Kelakuan ini bukan murni pembangkangan (sekalipun ada juga yang demikian).

Anak usia presekolah dan yang lebih tua

Anak-anak ini akan sering mengungkapkan secara langsung apa yang ada dalam pikirannya. Dengarkan pendapatnya, apa yang ia rasakan atau butuhkan. Kalau ia mengemukakan pendapat yang benar, tentu itu bagus sekali. Namun apa yang ia inginkan itu tidak selalu bisa dipenuhi, karena belum tentu semuanya benar.

Remaja

Remaja kerap membutuhkan orang lain terutama orangtuanya untuk campur tangn, termasuk menegur mereka. Dalam bentuk apapun, kekerasan fisik terhadap remaja tidak dapat dibenarkan.

Seorang remaja bersikap layaknya bayi yang baru lahir. Ia bisa jadi pelupa, tak teratur, dan seenaknya serta bertingkah seperti ‘bukan keturunan orangtuanya’. Namun, remaja tiga belas tahun mudah mempercayai orang lain dan berbela rasa, inilah kesempatan yang sangat baik untuk mendekatkan diri dengan mereka. Remaja usia empat belas tahun bisa bersikap seperti bocah berusia dua tahun yang sangat emosional, selalu mencoba melanggar batas, ingin bergelut dengan Anda dan ingin Anda balas bergelut. Sedapat mungkin jangan mengabaikannya. Mereka perlu belajar bertanggung jawab dan bersikap hati-hati, inilah saat puncak bagi Anda sebagai orangtua untuk memberi masukan.

Nikmatilah setiap saat dalam masa-masa ini. Anak-anak bertumbuh dari bayi menjadi dewasa, mempunyai cara penerapan belajar yang berbeda-beda.

Source : Buku Mendidik Anak dengan Cinta