Posts Tagged ‘Tuhan’

Wawancara Dengan Tuhan

Posted: 12 November 2010 in Renungan/Devotion
Tags: ,

detail_img

Aku bermimpi melakukan wawancara dengan Tuhan.

“Masuklah,” kata Tuhan. “Jadi, Anda ingin melakukan wawancara dengan saya?”

“Jika Anda punya waktu,” jawabku.

Tuhan tersenyum dan berkata, “Waktu saya adalah kekal. Ini cukup untuk melakukan apapun. Pertanyaan apa yang ada di pikiran Anda yang ingin ditanyakan pada saya?”

Aku bertanya, “Hal apa yang paling mengejutkan Anda yang Anda temukan pada manusia?”
Tuhan berpikir sebentar dan kemudian menjawab, “Mereka bosan menjadi anak-anak dan buru-buru ingin bertumbuh dewasa, dan kemudian ingin kembali menjadi anak-anak.

Bahwa mereka mengorbankan kesehatan mereka demi menghasilkan uang dan kemudian menggunakan uang itu untuk memulihkan kesehatan mereka kembali.

Mereka begitu cemas tentang masa depan, tapi mereka lupa untuk hidup di saat ini, akhirnya mereka tidak hidup di masa kini maupun di masa depan.

Mereka hidup seolah-olah mereka tidak akan pernah mati, dan akhirnya mereka mati seperti mereka tidak pernah hidup.”

Tuhan menaruh tangan saya di atas tangannya dan kami terdiam sebentar. Kemudian aku bertanya,

“Sebagai orangtua, pelajaran hidup seperti apa yang Anda ingin agar anak-anak Anda pelajari?”
Tuhan menjawabnya sambil tersenyum, “Belajar bahwa mereka tidak bisa membuat orang lain mencintai mereka. Yang mereka bisa lakukan hanyalah membiarkan diri mereka dicintai.

Untuk belajar bahwa tidak baik membandingkan diri mereka dengan orang lain. Setiap orang akan di hakimi atas tindakannya masing-masing, bukan berdasarkan perbandingan antara satu sama lin.

Belajar bahwa orang kaya bukanlah mereka yang memiliki banyak hal, namun mereka yang memiliki kebutuhan paling sedikit.

Mereka juga harus belajar hanya membutuhkan beberapa detik untuk melukai orang yang kita cintai, dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyembuhkan mereka.

Belajar untuk memaafkan dengan menerapkan pengampunan. Belajar bahwa ada orang yang sangat mencintai dirinya, namun orang itu tidak tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan atau menunjukkan perasaannya itu.

Belajar bahwa uang bisa membeli segalanya kecuali kebahagiaan.
Belajar bahwa dua orang dapat melihat satu hal yang sama namun memiliki dua pendapat yang jauh berbeda.

Belajar bahwa teman sejati adalah seseorang yang tahu segala sesuatu tentang hidupnya… namun tetap mengasihinya.

Saya duduk disana sambil menikmati kunjungan saya di rumah Tuhan itu.

Lalu saya mengakhirnya dengan berterima kasih atas waktu-Nya dan atas semua yang telah Ia lakukan untuk saya dan keluarga saya.

Dia menjawab, “Tentu. Kapan saja, 24 jam saya ada disini. Yang Anda harus lakukan hanyalah bertanya pada saya dan saya akan menjawabnya.”

Sumber : Inspirationalstories.com

detail_img

Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” (Kej 22:2). Firman yang berikut ini sudah begitu seringkali kita dengar dan dikhotbahkan dalam berbagai acara. Firman ini sarat dengan pengorbanan dan ketaatan Abraham terhadap perintah Tuhan, dia mau mengorbankan anaknya sendiri yang diminta Tuhan.

Sebelumnya, mari kita lihat sifat Abraham. Pada waktu itu, Tuhan memanggil Abraham untuk keluar dari tempat tinggal ayah ibunya dan pergi ke tanah yang akan Tuhan berikan padanya. Abraham taat pergi mengikuti kata Tuhan. Mungkin kalau dalam keadaan sekarang, kita bisa dianggap gila karena mengikuti begitu saja tanpa tahu kemana tujuan yang pasti, apa yang harus dilakukan. Tapi Abraham taat.

Kemudian, di lain cerita dikatakan Abraham dan Lot mempunyai banyak harta sehingga tempat mereka tinggal tidak dapat lagi menampung mereka. Mereka pun kemudian mencari tempat tinggal baru. Pada saat menemukan tempat tersebut, Abraham yang saat itu masih bernama Abram, berkata kepada Lot agar Lot yang menentukan kemana dia mau melangkah lebih dahulu. Jika Lot memilih ke timur, maka Abram ke barat.

Abraham yang merupakan paman dari Lot, yang ditentukan Tuhan sebagai penerima berkat dan disertai Tuhan, mau menyerahkan keputusan tersebut ke tangan Lot. Dan seperti yang kita ketahui, Lot memilih bagian timur, bagian yang paling subur. Lot mungkin tidak peduli bahwa pada saat itu, Abraham yang merupakan pamannya mendapatkan tempat yang kurang subur. Saat Lot sudah berpisah dengan Abraham, apa yang terjadi kemudian?

Tuhan katakan kepada Abraham, “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.” (Kej 13:14-15).

Tuhan memberikan semua tempat yang dipandang oleh Abraham saat itu kepadanya, dari segala sisi termasuk sisi timur, tanah pilihan Lot, diberikan Tuhan kepada Abraham. Semuanya hanya karena satu, Abraham rendah hati dan taat mengikuti perintah Tuhan.

Mari kita bawa situasi Abraham ketika diminta Tuhan untuk mempersembahkan Ishak sebagai korban ke dalam kehidupan kita. Sudah puluhan tahun kita tidak punya anak dan keturunan. Ketika lahir, anak kita diminta. Mungkin sebagai seorang kepala rumah tangga, sang suami mungkin akan berkonsultasi dengan istrinya, apa yang harus dilakukan. Tapi di Alkitab tidak disebutkan, jadi kemungkinan Abraham tidak berkonsultasi dengan Sara tapi dengan penuh keteguhan hati dia siap menyerahkan Ishak kepada Tuhan.

Apa yang membuatnya seperti itu? FOKUS. Dia memfokuskan dirinya kepada Sang Pencipta, yang memberikan kepadanya Ishak. Abraham tahu bahwa Tuhanlah yang memberikan Ishak kepadanya jadi Tuhan berhak atas apa saja. Apakah menurut Anda sementara Abraham mempersiapkan Ishak menjadi korban, domba yang telah disediakan Allah sudah ada atau belum? Kemungkinan, domba itu sudah ada walaupun memang Alkitab tidak menyebutkan hal itu.

Domba pengganti Ishak sudah ada tapi Abraham tidak memandang sekeliling, dia hanya fokus kepada Penciptanya dan tujuannya datang ke sana. Saat fokus kita hanya kepada Tuhan, maka sebenarnya Dia sudah menyiapkan semuanya untuk kita

Itulah yang menjadi masalah kita pada umumnya sebagai umat Tuhan. Fokus. Kemanakah fokus Anda? Apakah ada ‘Ishak-Ishak’ yang menghalangi Anda untuk menyembah, melakukan perintah, menaati, memperhatikan, dan mengutamakan Tuhan? Siapakah ‘Ishak’ ada di dalam diri Anda? Apa ‘Ishak’ itu dalam diri Anda? ‘Ishak-Ishak’ itu dapat menghalangi Anda untuk dekat Tuhan. Anda akan lebih memperhatikan, entah itu kekayaan, kehormatan, kedudukan, keuangan, kesehatan, anak-anak Anda, ataupun hal berharga lainnya bagi Anda daripada Tuhan itu sendiri, sumber segalanya.

detail_img

Dalam Yosua 1:1-10 dikatakan, “Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian: “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu. Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa. Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi daerahmu. Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka. Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.”

Di dalam kisah di atas, Tuhan berkali-kali mengingatkan Yosua untuk meneguhkan dan menguatkan hatinya. Sungguh luar biasa bahwa setiap apa yang diinjak oleh Yosua akan menjadi kepunyaannya dan orang Israel, Tuhan akan memberikan kepada mereka semuanya itu. Hanya satu syarat yang diminta Tuhan yaitu mereka menguatkan dan meneguhkan hati mereka.

Dalam hal apa? Tuhan menginginkan mereka untuk bertindak sesuai dengan hukum yang telah Tuhan tetapkan dan merenungkannya siang dan malam. Tuhan ingin kita taat kepada-Nya dengan sepenuh hati dan pikiran kita. Kita harus percaya bahwa Tuhan memberikan segalanya buat kita asalkan kita melakukan satu hal tersebut. Kita menguatkan dan meneguhkan hati kita di dalam Tuhan.

Tuhan meminta kita untuk memilih berkat atau kutuk, memilih hidup atau mati. Jika engkau melakukan semua yang Tuhan perintahkan maka berkat akan melimpah atasmu. Jika engkau memilih kutuk, jalanilah kehidupan dunia yang rusak ini sesuka hatimu. Apapun yang engkau pilih, baik sadar atau tidak, engkau akan menerima konsekuensinya.

Masalahnya, kita sebagai anak Tuhan, seringkali memikirkan maupun memperkatakan maupun bertindak hal-hal yang negatif, untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. “Saya ini memang begini orangnya, saya memang tidak bisa apa-apa.”, “Saya tahu memang saya lahir dari dengan keterbatasan fisik seperti ini, saya akan mati dengan fisik seperti ini, tidak ada yang dapat saya lakukan untuk mengubahnya.”, “Saya memang tolol, selalu saja melakukan hal-hal bodoh.”, “Hidup saya memang tidak pernah bahagia.”, “Sayalah yang menyebabkan orangtua saya bercerai.” dan masih banyak lagi. Apakah Anda pernah mengucapkan ataupun memikirkan hal-hal yang serupa dengan itu?

Bagaimana bisa kita menguatkan dan meneguhkan hati kita jika pikiran kita dalam keadaan negatif? Pikiran-pikiran itu memberi batasan kepada Tuhan untuk bekerja dalam hidup kita. Kita menjadikan Tuhan menjadi kecil dalam hidup kita. Tuhan ingin agar kita mau dan selalu mengucapkan berkat-berkatNya dalam hidup kita. Jangan kita mengatakan hal-hal buruk tentang diri kita sendiri maupun tentang orang lain sehingga Tuhan bekerja melalui hidup kita.

Jadilah pengikut Kristus yang militan. Yang bagaimanakah itu? Pengikut yang mencintai Tuhan dengan segenap jiwa dan pikirannya, yang selalu mengundang Tuhan dalam setiap perkara yang dia buat, yang selalu memberkati orang lain dan dirinya sendiri, yang peduli kepada sesama, dan yang memperkatakan firman Tuhan kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja dia berada.

Ubahlah pikiran-pikiran maupun perkataan yang negatif menjadi positif. Mungkin Anda akan gagal dan tetap jatuh pada pikiran negatif, tapi itulah gunanya Anda belajar dan Anda merenungkan firman Tuhan siang malam, sehingga pikiran Anda dipenuhi oleh firman Tuhan.

Jadi jika Anda mempunyai suatu penyakit, jangan jadikan penyakit Anda sebagai suatu yang besar yang menuntut semua perhatian Anda dan sepertinya Tuhan tidak bisa berbuat apa-apa untuk penyakit tersebut. Jika keluarga Anda hancur, janganlah Anda lari kepada dunia yang menawarkan kesenangan sesaat yang kemudian akan membuat hidup Anda lebih hancur lagi. Apapun keadaan buruk menimpa Anda, semua itu hanya sementara. Semuanya akan berlalu, tapi firman-Nya tinggal tetap dalam hati dan hidup Anda, selamanya.

detail_img

Anda tidak akan pernah tahu bahwa kata-kata yang Anda ucapkan mungkin berdampak bagi orang lain – bahkan cukup untuk mengubah hati seorang pembunuh. Di Georgia, pada hari Sabtu, 12 Maret 2005, Ashley Smith disandera oleh Brian Nichols setelah Brian melarikan diri dari gedung pengadilan. Brian disidang atas kasus pembunuhan empat orang. Ashley saat itu diberi kekuatan untuk mengucapkan beberapa bagian dari buku yang ditulis Rick Warren, PURPOSE DRIVEN LIFE, kepada Brian. “Brian berkata bahwa ia pikir saya adalah seorang malaikat yang dikirim Tuhan. Saya adalah saudara perempuannya dan ia adalah saudara laki-laki saya yang terhilang. Tuhan telah menuntunnya kepada saya,” ujar Ashley ketika ia menceritakan kembali momen tersebut. Brian kemudian membebaskan Ashley dan menyerahkan diri kepada polisi.

Akulah TUHAN yang menjadikan engkau, yang membentuk engkau sejak dari kandungan (Yesaya 44:2a)

Kelahiran Anda bukanlah suatu kesalahan atau kecelakaan, dan hidup Anda bukan terjadi secara kebetulan atau sekedar fenomena alam. Orangtua Anda mungkin tidak merencanakan kehadiran Anda, tapi Tuhan punya rencana atas hidup Anda. Tuhan sama sekali tidak terkejut atas kehadiran Anda di dunia. Bahkan sebenarnya Ia mengharapkan kelahiran Anda.

Jauh sebelum Anda dikandung oleh orangtua Anda, Anda telah dikandung di dalam pikiran Tuhan. Ini bukan takdir, bukan kebetulan dan bukan keberuntungan jika Anda masih bernafas saat ini. Anda hidup karena Tuhan ingin menciptakan Anda! Firman Tuan berkata, Engkau akan memenuhi janji-Mu kepadaku (Mazmur 138:8a BIS).

Tuhan menentukan setiap detail dari tubuh Anda. Dia sengaja memilih ras Anda, warna kulit Anda, rambut Anda, dan setiap bagian tubuh lainnya. Tuhan membentuk tubuh Anda tepat seperti yang diinginkannya. Tuhan juga menentukan bakat alami yang Anda miliki dan keunikan dari kepribadian Anda. Alkitab berkata, You know me inside and out, you know every bone in my body; You know exactly how I was made, bit by bit, how I was sculpted from nothing into something {Engkau mengenalku baik di dalam maupun di luar, Engkau tahu setiap tulang dalam tubuhku; Engkau tahu secara persis bagaimana aku dibuat, sedikit demi sedikit, bagaimana saya dipahat dari ketiadaan menjadi sesuatu} (Mazmur 139:15 Message Bible).

Karena Tuhan menciptakan Anda untuk sebuah alasan, Ia juga memutuskan kapan Anda akan dilahirkan dan berapa lama Anda akan hidup. Tuhan telah merencanakan hari hidup Anda sejak semula, memilih waktu yang tepat untuk kelahiran dan kematian Anda. Alkitab berkata, Engkau melihat aku waktu aku masih dalam kandungan; semuanya tercatat di dalam buku-Mu; hari-harinya sudah ditentukan sebelum satu pun mulai (Mazmur 139:16 BIS).

Tuhan juga telah merencanakan dimana Anda dilahirkan dan dimana Anda akan hidup untuk memenuhi tujuan-Nya. Ras dan kebangsaan Anda bukanlah sebuah kecelakaan. Tuhan merencanakan semua itu untuk memenuhi tujuan-Nya. Alkitab berkata, Dari satu orang manusia Ia membuat segala bangsa dan menyuruh mereka mendiami seluruh bumi. Ia jugalah yang menentukan sejak semula, kapan dan di mana mereka boleh hidup (Kisah Para Rasul 17:26 BIS).

Tidak ada satu halpun dalam hidup Anda terjadi begitu saja. Semua itu untuk sebuah tujuan.

Yang paling menakjubkan, Tuhan telah memutuskan bagaimana Anda akan dilahirkan. Terlepas dari keadaan lahir Anda atau siapa orangtua Anda, Tuhan memiliki sebuah rencana dalam menciptakan Anda. Tak peduli apakah orangtua Anda itu baik, buruk, atau acuh tak acuh terhadap Anda. Tuhan tahu bahwa kedua individu itu memiliki genetika yang tepat dan persis seperti yang diinginkan-Nya untuk menciptakan kebiasaan Anda seperti Anda yang ada di dalam pikiran-Nya. Orangtua Anda memiliki DNA yang Tuhan inginkan untuk menciptakan Anda. Walaupuan ada orangtua yang tidak sah, tidak ada anak yang tidak sah. Banyak anak yang tidak direncanakan kehadirannya oleh orangtua mereka, tetapi Tuhan tidak pernah tidak merencanakan kelahiran Anda. Tujuan yang Tuhan tetapkan melebihi perhitungan kesalahan manusia, bahkan melebihi dosa sekalipun.

Tuhan tidak pernah melakukan sesuatu secara kebetulan, dan Tuhan tidak pernah melakukan kesalahan. Tuhan memiliki alasan untuk segala sesuatu yang Ia ciptakan. Setiap tumbuhan dan hewan direncanakan oleh Tuhan dan setiap orang dirancang dengan sebuah tujuan di dalam pikiran Tuhan. Motivasi Tuhan saat menciptakan Anda adalah karena kasih-Nya. Alkitab berkata, Long before he laid down earth’s foundations, he had us in mind, had settled on us as the focus of his love, to be made whole and holy by his love {Jauh sebelum Ia meletakkan dasar bumi, Dia memiliki kita di dalam pikiran-Nya, menyelesaikan hidup kita sebagai fokus dari kasih-Nya} (Efesus 1:4a Message Bible)

Allah telah memikirkan Anda bahkan sebelum Ia menciptakan dunia. Bahkan sebetulnya, itulah alasan Tuhan menciptakan dunia! Tuhan merancang lingkungan di planet ini hanya agar kita bisa hidup di dalamnya. Kita adalah fokus dari kasih-Nya dan ciptaan yang paling berharga dari seluruh ciptaan-Nya. Alkitab berkata, Atas kemauan-Nya sendiri Ia menjadikan kita anak-anak-Nya melalui sabda-Nya yang benar. Ia melakukan itu supaya kita mendapat tempat yang utama di antara semua makhluk ciptaan-Nya (Yakobus 1:18 BIS).

Lihatlah betapa Tuhan begitu mengasihi Anda dan menganggap Anda sangat bernilai!

Tuhan tidaklah serampangan, Dia merencanakan semuanya dengan tepat. Semakin banyak para ilmuwan dan ahli biologi belajar tentang alam semesta, semakin kita memahami bagaimana planet ini secara unik cocok bagi keberadaan kita, yang dibuat dengan spesifikasi yang tepat sehingga memungkinkan manusia hidup.

Dr. Michael Denton, peneliti senior dalam genetika molekular manusia di Universitas Otago, New Zealand, telah menyimpulkan, Semua bukti yang tersedia dalam ilmu biologi mendukung proposisi inti bahwa kosmos dirancang khusus secara keseluruhan untuk kehidupan dan manusia sebagai tujuan fundamentalnya, secara keseluruhan di mana semua semua segi realita memiliki makna dan penjelasannya dalam fakta sentral. (Michael Denton, Destinasi Alam: Bagaimana Hukum Biologi Mengungkapkan Tujuan Di Alam Semesta, New York: Free Press, 1998, p.389).

Alkitab telah mengatakan hal yang sama ribuan tahun sebelumnya: Tuhanlah yang menciptakan langit, Dialah Allah! Dialah yang menjadikan dan membentuk bumi, membuatnya kokoh dan tetap berdiri. Ia tidak menjadikannya tempat yang sunyi sepi, tetapi tempat untuk didiami. Dialah yang berkata, “Akulah TUHAN, dan tak ada lainnya (Yesaya 45:18 BIS).

Mengapa Tuhan melakukan semua ini? Kenapa Tuhan begitu repot menghadapi semua persoalan dengan menciptakan alam semesta ini bagi kita? Karena Tuhan adalah Tuhan yang penuh kasih. Kasih semacam ini sulit untuk dimengerti, namun secara fundamental dapat diandalkan. Anda diciptakan sebagai obyek spesial dari cinta-Nya Tuhan! Tuhan menciptakan Anda agar Ia bisa mencintai Anda. Ini adalah sebuah kebenaran untuk membangun hidup Anda.

Alkitab mengatakan kepada kita bahwa Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8). Ayat ini tidak mengatakan bahwa Allah memiliki kasih. Allah adalah kasih! Kasih adalah esensi dari karakter Tuhan. Ada kasih yang sempurna di dalam persekutuan Trinitas, jadi Tuhan tidak perlu menciptakan Anda. Tuhan tidaklah kesepian. Tapi Tuhan ingin menciptakan Anda untuk mengekspresikan kasih-Nya.

Tuhan berkata, Dengarlah Aku, hai keturunan Yakub, kamu semua yang tersisa dari umat-Ku. Aku telah memelihara kamu sejak kamu dilahirkan. Aku tetap Allahmu sampai kamu tua; dan tetap menjaga kamu sampai kamu beruban. Aku menjadikan kamu dan tetap memelihara kamu, Aku akan menolong dan menyelamatkan kamu (Yesaya 46:3-4 BIS).

Jika tidak ada Allah, maka kita semua lahir karena kecelakaan, hasil dari kebetulan acak astronomis di alam semesta. Anda bisa berhenti membaca artikel ini, karena hidup ini pada akhirnya tidak akan memiliki tujuan dan tidak memiliki arti dan makna sama sekali. Tidak akan ada benar atau salah, dan tidak ada harapan di luar tahun Anda yang singkat di bumi.

Tapi Tuhan itu ada dan ia menciptakan Anda untuk sebuah alasan, dan kehidupan Anda memiliki makna yang dalam! Kita akan menemukan arti dan tujuan hanya ketika kita menjadikan Tuhan sebagai titik acuan dalam hidup kita. Kalimat terakhir dari Roma 12:3 (Message Bible) berkata, The only accurate way to understand ourselves is by what God is and by what he does for us, not by what we are and what we do for him {Satu-satunya cara yang akurat untuk memahami diri sendiri adalah dengan memahami siapa itu Allah dan apa yang dilakukannya bagi kita, bukan dengan memahami diri kita dan apa yang kita lakukan bagi-Nya}.

Sumber: Rick Warren

detail_img

Sebuah puisi tua menggambarkan seorang wanita yang pada suatu hari berjalan melewati padang rumput. Pada saat dia berjalan sambil menikmati keadaan alam sekitarnya, dia tiba pada sebuah ladang labu emas. Di ujung ladang tersebut berdiri sebatang pohon ek besar.

Wanita itu duduk di bawah pohon ek tadi dan mlai merenungkan keanehan-keanehan yang ada di alam. Mengapa biji ek yang kecil berada pada dahan yang besar dan labu raksasa pada ranting kecil. Dia berpikir bahwa Tuhan telah melakukan kesalahan dalam penciptaan! Seharusnya Dia meletakkan biji kecil pada ranting yang kecil sedangkan labu besar pada dahan yang besar.

Tak lama kemudian, wanita itu tertidur di bawah hangatnya sinar matahari musim gugur. Dia terbangun pada saat sebuah biji kecil jatuh menimpa hidungnya. Dengan tertawa geli, dia mengubah pola pemikiran sebelumnya, Tuhan benar juga!

Bagaimana kalau tadi biji / buah sebesar labu emas yang jatuh menimpa dirinya? Apa yang akan terjadi kalau begitu? Mungkin dia akan kembali ‘tertidur’ buat kedua kalinya. Itulah pemikiran Tuhan yang jauh melebihi pemikiran manusia, bagaimana kita terkadang tidak dapat menyelami pikiran-Nya namun kita hanya perlu percaya semua rancangan-Nya sempurna buat kita.

Dalam setiap situasi, Tuhan jauh lebih tahu tentang manusia dan situasi yang terkait dibandingkan apa yang kita ketahui. Dia sendiri melihat segala sesuatu dari awal sampai akhir. Dia sendiri tahu bagaimana menciptakan sebuah Rencana Agung yang membawa kebaikan bagi semua yang melayani-Nya.

Betapa ajaibnya Tuhan yang kita sembah. Dia bisa mengerti hati kita yang paling dalam tapi juga paling mengetahui setiap apa yang terjadi di dunia ini dan sudah mengatur segala sesuatu di tempat yang baik. Wow, kami memuji Engkau ya Pencipta yang Agung dan luar biasa….

Sumber : generasi minyak anggur

detail_img

Filipi 3:8, 13-14 berkata:

Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, … Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Ayat di atas menjadi suatu hal yang wajar bila Anda telah lama menjadi orang Kristen karena Anda pasti pernah membaca ayat ini. Dan jika Anda memiliki sedikit cinta kepada Yesus, firman itu akan membangkitkan semangat di dalam hati Anda. Roh Allah dalam hati Anda sedang melompat dalam kegembiraan yang luar biasa karena Anda sedang menangkap hati Allah yang sebenarnya dalam hidup Anda melalui pengorbanan Yesus. Roh di dalam Anda memberi kesaksian akan kebenaran. Tak peduli siapa Anda, dari denominasi mana Anda berasal, versi Alkitab mana yang paling Anda percayai, namun ada sesuatu di dalam diri setiap orang percaya ketika membaca ayat ini. Tidak bisa tidak Anda hanya bisa berteriak, “Ya Tuhan, itu yang saya inginkan!”

Namun apa yang terjadi semenjak Anda membaca ayat ini untuk pertama kalinya sampai sekarang? Mengapa tidak semua orang percaya yang hidup seperti itu? Tanyakan kepada diri Anda sendiri, “Apa yang terjadi dalam hidupku yang menyebabkan gambar Yesus menjadi kabur dan tidak bisa dikenali?” Saya percaya, jawabannya ada di sekitar Anda.

Paulus berkata, “Tetapi ini yang kulakukan…” (Tetapi satu hal yang saya lakukan – terjemahan versi Inggris). Tidak ada hal lain bagi Paulus. Tapi hidup kita tidak diatur seperti itu. Seluruh sistem dunia dan seluruh rencana dari si jahat justru dimaksudkan untuk menjauhkan Anda dari melakukan satu hal itu. Hidup Anda terperangkap untuk melakukan banyak hal. Hidup Anda telah hancur menjadi kepingan-kepingan kecil. Karya Agung Yesus yang dilukis di hati Anda ketika Anda pertama kali menyerahkan hidup Anda bagi-Nya perlahan-lahan tercabik-cabik sampai tak bersisa, hancur sia-sia. Anda lalu menemukan bahwa Anda telah mengganti Karya Agung Yesus dengan sesuatu yang sia-sia, hidup dalam kehidupan duniawi dan kedagingan Anda sendiri.

Tapi ini belum selesai. Tidak semuanya hilang. Yesus adalah Master seniman terbesar, dan Dia selalu bisa memulai kembali untuk menciptakan masterpiece di dalam Anda. Bagi manusia itu mustahil, tapi bagi Tuhan segala hal mungkin. Dia dapat mengumpulkan potongan-potongan hidup Anda dan mulai merekonstruksi ulang bagi kemuliaan-Nya.

Saya sedang dalam proses ini sama seperti Anda. Saya menemukan diri saya kehilangan semangat itu, hasrat untuk masuk dalam pengenalan akan Kristus. Sebuah tantangan untuk melupakan apa yang telah terjadi dalam hidup saya. Tapi saya menyadari, satu saat, jika saya berhadapan dengan Tuhan, maka hasrat ini akan kembali dengan sangat cepat. Ini adalah peperangan mental dan spiritual untuk menyingkirkan penghargaan, dan juga tragedi dalam kehidupan, dan mengikatkan diri pada ‘satu hal’. Tuhan adalah setia, dan untuk setiap hal yang saya tinggalkan, untuk setiap tropi yang sekarang saya anggap sebagai sampah, saya menemukan bagian dari hasil karya-Nya yang jenius. Dengan pertolongan Tuhan, saya adalah bagian dari “Mona Lisa” yang hilang dan ditemukan kembali untuk disatukan dan mengembalikan kemuliaan Allah.

Saya ingin mendorong Anda hari ini. Dimanapun Anda berada saat ini, jika Anda membaca ayat dari kitab Filipi ini dan hati Anda menangis dalam semangat antusiasme, “Ya Tuhan, itulah kelaparanku akan Engkau yang saya inginkan”, maka masih ada waktu. Anda belum pergi terlalu jauh. Anda belum meniup kesempatan terakhir Anda. Berlututlah saat ini dan minta Tuhan untuk membantu Anda memperoleh kembali gairah itu bagi-Nya. Biarkan Tuhan meletakkan kuas-Nya di kanvas hati Anda dan menggambar sesuatu yang baru dan segar di dalam hidup Anda hari ini. Sedikit demi sedikit Anda akan melihat gambaran Yesus mulai terbentuk di dalam Anda. Dan sebelum Anda menyadarinya, Anda telah berada kembali di dalam kehendak Tuhan, bersekutu di dalam Dia dan menikmati semua pengenalan yang luar biasa akan Yesus.

Sumber : Paul Dailey

detail_img

Saya sangat suka bagaimana Tuhan menggunakan kehidupan sehari-hari untuk memberikan kepada saya pengertian secara rohani. Pengertian itu seringkali menyelinap dari kejadian-kejadian sederhana yang saya temui.

Saya sedang mengantri di toko kelontong sambil memeriksa daftar belanjaan ketika saya melihat seorang gadis kecil menari mengelilingi ibunya. Ibu muda itu pasti terganggu dengan kelakuan gadis kecilnya yang cukup merepotkannya sepanjang hari. Tatapan mata maupun nada suara yang digunakannya untuk membuat gadis kecilnya berdiri dengan tenang masih saja diabaikan. Sambil memandang mereka, saya berpikir ibu itu pasti akan menggunakan pukulan lembut pada putrinya (ibu saya sering memilih hal itu ketika saya masih kecil).

Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Ibu yang sabar ini hanya berkata kepada putrinya, “Mama akan hitung sampai sepuluh!” Sepuluh? Saat itu gadis kecil ini pasti sudah menjatuhkan beberapa baris kotak dan kaleng-kaleng serta berlari keluar dari pintu, pikir saya. Dan jangan berpikir bahwa ibu itu akan menghitung dengan cepat. Saat saya melewatinya, ibu itu sedang berkata, “Satu… dua…”, ia menghitung dengan sangat lambat. Saya tidak berani lagi melihat kelanjutannya. Ibu saya akan menghitung juga jika saya nakal. Tapi tidak pernah lebih dari tiga. Namun ketika saya keluar dari tempat parkir, saya melihat ibu dan gadis kecil itu berjalan keluar dari toko. Jadi entah bagaimana, gadis kecil itu tahu untuk merespon peringatan ibunya.

Kejutan nyata datang kemudian di hari itu. Tuhan mengingatkan saya akan apa yang baru saja saya saksikan dan Ia berbicara di hati saya. Tuhan berkata, “Aku juga menghitung sampai sepuluh.” Tuhan mengingatkan saya bahwa Ia adalah Tuhan yang sabar, baik hati dan Bapa yang penuh kasih. Tuhan tidak hanya menghitung sampai tiga lalu kemudian memukul untuk mendapatkan perhatian kita. Dia menunggu dan memberikan kita banyak kesempatan untuk menanggapi suara lembut Roh Kudus – Pribadi yang selalu berusaha menyadarkan dan membuat kita berdiri dengan diam.

Beberapa dari Anda mungkin merasa Tuhan sedang menunggu kita untuk melakukan suatu kesalahan sehingga ia bisa menimpakan hal yang buruk kepada kita. Tapi Tuhan tidak seperti itu. Tuhan menghitung sampai sepuluh dengan sangat lambat, sama seperti ibu yang ada di toko kelontong tadi. Tuhan mengasihi kita dan tidak ingin menyakiti kita. Tuhan memiliki rencana yang baik bagi hidup kita.

Yeremia 29:11
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Percayakan hidup Anda hari ini kepada-Nya. Dia selalu ada untuk Anda, tidak peduli apa yang sedang Anda alami dalam hidup Anda.

Sumber : Martha Noebel